Koleksi Arsip Masa Pendudukan Jepang dan Revolusi Diluncurkan di Flinders University

LITERASI INDONESIA – Flinders University meluncurkan koleksi digital milik seorang peneliti dan akademisi yang telah lama mendalami sejarah Indonesia, Anton Lucas.

Koleksi digital itu diluncurkan dalam koleksi spesial yang berisi arsip sejarah dan politik Indonesia, khususnya pada Masa Pendudukan Jepang dan Masa Revolusi Indonesia. Mayoritas koleksi berbahasa Indonesia dan mencakup transkrip wawancara, manuskrip dan publikasi, catatan penelitian, peta, serta foto-foto. Peluncuran berlangsung pada Senin di Adelaide, Australia (8/11).

Anton Lucas, seorang Associate Professor pada College of Humanities, Arts and Social Sciences, Flinders University, telah banyak berkiprah lewat penelitian dan ragam karya buku-buku tentang sejarah Indonesia. Anton pernah bekerja di the Social Sciences Research Training Centre (PLPIIS), Universitas Hasanuddin, Makassar, pada tahun 1984 hingga 1985, dan di the Inter-University Centre, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tahun 1990-1992.

Pasca purna tugas dari Flinders University, Anton tetap menulis dan menjadi Adjunct Associate Professor di Flinders University. Ia juga dikenal aktif sebagai Anggota Gamelan Sekar Laras di Pendopo Flinders University.

Diterangkan Anton, seluruh koleksi yang telah ia kumpulkan dalam karier profesionalnya, telah ia donasikan pada perpustakaan Flinders University pada tahun 2006. “Koleksi tersebut berisi surat-surat dan dokumen pada masa pendudukan Jepang dan revolusi Indonesia yang berupa kliping berita, rekaman audio, dan foto-foto, khususnya yang berkaitan dengan “Peristiwa Tiga Daerah” di Pantai Utara Jawa pada tahun 1945,” ucap Anton.

Adapun topik-topik koleksi yang dimiliki dan didonasikan kepada perpustakaan Flinders University meliputi topik demokrasi di Indonesia, perempuan dalam revolusi Indonesia, gerakan keagamaan, dan gerakan protes pertanahan dan lingkungan yang terjadi setelah revolusi Indonesia.

“Semua koleksi tersebut kini dikonversi dalam bentuk digital oleh perpustakaan Flinders University, sehingga memudahkan bagi lebih banyak orang untuk mengakses koleksi tersebut sebagai sumber pembelajaran. Perpustakaan juga menyediakan akses global untuk materi arsip ini,” terang Anton.

Peluncuran ini dihadiri Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra, Mukhamad Najib. Disampaikan Najib, ia mengapresiasi  koleksi digital tentang sejarah Indonesia yang dimiliki oleh Anton.

“Arsip-arsip sejarah revolusi sosial di daerah Pantura, Jawa Tengah, merupakan koleksi sejarah yang sangat penting dan sangat bernilai tinggi,” tutur Najib yang menilai, walaupun demikian, kemungkinan masih banyak anggota masyarakat Indonesia yang belum mengetahui secara lengkap mengenai sejarah tersebut.

Digitalisasi arsip dan juga material lainnya, dilanjutkan Najib, saat ini penting dilakukan karena mempermudah publik untuk mengakses dan mempelajarinya. “Semua koleksi berharga ini dapat dilihat bukan hanya oleh pelajar dan peneliti di Australia, tapi juga di Indonesia dan negara lainnya. Oleh karena itu, wakaf arsip sejarah digital yang diberikan Anton ini dapat menjadi salah satu jembatan penghubung pengetahuan antara Indonesia dan Australia,” tutur Najib.

“Arsip digital ini sangat penting, karena bukan sekedar berisi catatan sejarah, tapi juga cerita hidup dan perjuangan Bangsa Indonesia yang berusaha keluar dari penjajahan dan membangun negaranya secara mandiri, di mana hal ini belum tentu diketahui secara utuh oleh masyarakat Indonesia sendiri,” terang Najib.

Dalam kesempatan ini juga, atas nama KBRI di Canberra, Atdikbud Najib menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia akan selalu berusaha memberikan dukungan penuh pada program Indonesian Studies yang ada di Australia termasuk di Flinders University.

“Salah satu dukungan yang diberikan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi adalah dengan berencana mengirimkan guru Bahasa Indonesia ke Flinders University pada tahun 2022,” tutur Najib.

Diharapkan Najib, pengiriman Guru Bahasa Indonesia dapat memperkuat program Indonesian Studies di Flinders University. “Selain itu juga bisa meningkatkan kolaborasi antara Flinders University dengan kantor Atdikbud di Canberra dalam mempromosikan dan mengembangkan bahasa dan kajian tentang Indonesia di Australia,” pungkas Najib.

Turut hadir dalam kesempatan ini adalah Peter Monteath selaku interim Executive Dean, College of Humanities, Arts and Social Sciences, Callista Thillou selaku Former Executive Director, Office of Communication, Marketing and Engagement, serta para pustakawan Flinders University Library, dan komunitas Indonesia di Adelaide, Australia. (SP)

Related posts