KBRI Canberra Gelar Seminar Batik sebagai Warisan Budaya Indonesia

LITERASI INDONESIA – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Canberra, Australia, terus mendorong dan mempromosikan pemakaian batik baik di kancah nasional maupun internasional.

Hal itu ditandai dengan gelaran seminar ‘Sustainability of Batik as Indonesia’s Heritage for the World: Opportunities and Challenges’ yang bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA), secara daring, di Canberra (7/10) lalu.

Diskusi diikuti seratus peserta pencinta budaya Indonesia dari berbagai negara, di antaranya Taipei, Malaysia, India, Italia, Australia, dan Indonesia.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia dan Vanuatu, Kristiarto S. Legowo, mengaku bahwa Indonesia harus terus melestarikan batik sebagai ekspresi kekayaan budaya Indonesia.

“Batik adalah bagian penting dan tak terpisahkan dari budaya dan diplomasi Indonesia, karena batik sudah mendunia dan secara luas dicintai bukan hanya oleh orang Indonesia, tapi juga masyarakat dunia,” tutur Dubes Kristiarto.

Diakui Kristiarto, dirinya sendiri amat menggemari batik. “Batik punya dua fungsi dalam masyarakat Indonesia, yaitu fungsi budaya dan fungsi ekonomi. Keseimbangan dua fungsi itulah yang akan menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan Indonesia untuk dunia. Sebagai warisan budaya, tentu batik harus dijaga dan dilestarikan. Namun, sebagai komoditas ekonomi, selama ini batik telah menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat dan ini terus meningkat dari tahun ke tahun,” tutur Kristiarto.

Sementara itu Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Indonesia di Canberra, Mukhamad Najib, menguraikan bahwa diskusi digelar untuk memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada hari penetapan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbenda oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009.

“Diskusi ini ingin mengkaji, dapatkah batik terus bertahan ditengah industri fesyen yang sangat beragam dan menarik? Di sisi lain, negara lain juga turut memproduksi batik, khususnya batik printing yang murah harganya,” terang Najib.

“Harapannya, peserta bisa paham sejarah batik dari ragam perspektif, termasuk dari peneliti internasional. Bukan hanya menambah kecintaan pada batik, tapi juga muncul semangat mempromosikan batik sebagai tren fesyen dunia,” ucap Najib.

Diskusi juga menghadirkan pembicara dari kalangan peneliti, akademisi, dan praktisi batik baik dari Australia maupun Indonesia. Pembicara dari James Cook University, Maria Wornska Friend, dalam uraiannya menjelaskan Batik Jawa berkontribusi besar bagi dunia sejak berabad-abad silam.

“Pengaruh Batik Jawa bukan hanya di nusantara, tapi hingga ke India, Afrika, Eropa, bahkan Australia,” tutur Maria yang sudah melakuan penelitan tentang Batik Jawa selama lebih dari 30 tahun ini. Maria juga mencontohkan batik motif “Parang Rusak” dari Jawa Tengah telah menginspirasi “the fan motive” yang diproduksi oleh perusahaan manufaktur kain kenamaan asal Belanda, Vlisco.

“Sebelum tahun 1913, di Manchester terdapat batik Afrika Barat yang motifnya terinspirasi dari Batik Jawa. Bahkan di India, penyair besar Rabindranath Tagore pada tahun 1929 sudah mengenakan batik Jawa. Ini menunjukkan betapa Batik Jawa memang sudah mendunia sejak lama,” papar Maria.

Akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga dikenal sebagai “Doktor Batik”, Yan Yan Sunarya, menyampaikan bahwa Batik Sunda juga merupakan kekayaan khas tanah air.

“Sejak abad ke-16, wilayah Sunda telah familiar dengan produksi Batik. Meski banyak ahli mengatakan bahwa Batik Sunda pada awalnya terpengaruh oleh Batik Jawa, namun Batik Sunda memiliki karakter spesifik yang berbeda seiring perkembangan nilai dan budaya Sunda yang memiliki perbedaan dengan Jawa,”  pungkas Yan Yan. (SP/Foto: unplash.com)

Related posts