Pimda 086 Tapak Suci Padangpanjang Upayakan Pengembangan Kualitas Kepelatihan

LITERASI INDONESIA – Mengembangkan pencak silat sebagai tradisi asli negeri ini, butuh keseriusan. Dan hanya mereka yang memiliki kemauan kuat yang dapat menjalaninya.

Hal itu tergambar dari ungkapan Ketua Pimpinan Daerah 086 Tapak Suci Putera Muhammadiyah (Pimda TSPM) Kota Padangpanjang Faiz Fauzan el-Muhammady Dt. Bagindo Marajo, M.Kom., Kua.

Ia menyampaikan hal tersebut saat bincang-bincang selesai latihan bersama Nova Indra, Direktur Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (P3SDM) Melati di komplek Perguruan Diniyah Puteri Padangpanjang, Sabtu (9/10) malam.

Dalam kesempatan tersebut, Faiz yang juga Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Bukit Surungan itu mengatakan, saat ini ia bersama seluruh jajaran pengurus Pimda 086 TSPM Padangpanjang tengah berupaya untuk terus menggenjot seluruh Kader agar memiliki kemampuan lebih di bidang kepelatihan.

“Ini sudah pertemuan kedua kita gelar Latihan Kader Pimpinan Tapak Suci (LKPTS). Ada beberapa Kader dan calon Kader yang ikut dalam program LKPTS kali ini,” ujarnya.

Latihan siswa di Pimda 086 TSPM Padangpanjang (Lokas: Kauman Muhammadiyah/Foto: Riki)

Dalam program LKPTS tersebut, sambung pemegang Sabuk Biru Melati Merah Empat itu, untuk menggenjot pemahaman para Kader TSPM dalam LKPTS tersebut, sejumlah materi-materi pengayaan diberikan secara terstruktur.

“Selain materi ragawi, penguasaan jurus dan keilmuan, kita juga berikan materi Al-Islam, Kemuhammadiyahan, Keorganisasian, dan materi lain sebagai pendukung. Mudah-mudah2an dengan ini bisa memberikan penyegaran bagi Kader dan pemahaman bagi calon Kader,” sebutnya.

Menyambung apa yang disampaikan Faiz Dt. Bagindo Marajo, Yuska Putra, S.Pd., Kua, salah seorang pelatih yang sudah malang-melintang di dunia pencak silat sejak tahun 80-an menyebutkan, saat ini memang sangat dibutuhkan kajian-kajian keilmuan yang lebih mendalam tentang kepelatihan.

Senada dengan itu, Nova Indra Kua yang intens bergerak di bidang kajian pengembangan sumber daya manusia mengatakan, saat ini pencak silat butuh sentuhan yang lebih serius dalam berbagai hal.

“Kita harus membuka diri untuk hal-hal yang lebih baru dan penting. Sebagai contoh, banyak pertanyaan dari sekolah-sekolah tempat Tapak Suci membuka cabang latihan, terutama masalah kurikulum, silabus, dan RPP. Dan selama ini kita belum memiliki itu secara formal,” jelas pria yang menetap di Kota Malang tersebut.

Dari kiri ke kanan: Yuska Putra, KUa, Faiz Fauzan el-Muhammady Dt. Bagindo Marajo, KUa, dan Nova Indra, KUa. (Foto: NI)

Lebih lanjut ia mengatakan, paradigma pembelajaran pencak silat memang sudah harus mengikuti pola pendidikan formal. Harus jelas dan terukur seperti materi pembelajaran lainnya. “Bila tidak, maka siap-siap saja kita akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan pembelajaran pencak silat di sekolah-sekolah,” katanya.

Untuk mengatasinya, kata penulis buku Membangun Kecerdasan Spiritual; Implementasi Filosofis Beladiri Minangkabau dan buku berjudul Kurikulum Pencak Silat Tingkat Dasar itu, rencana penyusunan Kurikulum Nasional Tapak Suci harus terus dilanjutkan dan menjadi perhatian Pimpinan Pusat.

“Melatih pencak silat bukan sekedar bagaimana mentransfer keterampilan gerakan dari seorang pelatih kepada siswanya. Lebih dari itu, pembelajaran pencak silat adalah membangun karakter pesilat, tidak sekedar pandai menarikan gerakan. Di dalamnya ada keilmuan yang mestinya sama dipahami oleh setiap pelatih di manapun. Jadi tidak ada beda antara pelatih satu dan lainnya walau berbeda lokasi,” imbuhnya.

Sementara itu di sela-sela latihan, Sekretaris Pimda 086 TSPM Padangpanjang Riki Kemala Sutra, Kua menyampaikan, LKPTS yang digelar kali ini, ada delapan orang peserta yang sedang mengikutinya.

“Mereka adalah Andi Adrian, KKa, Novri Yanti, KMdy, Cindy Permata Sari, KDsr, Yori Firdani, KDsr, Budi Dartono, KKa, dan saya sendiri. Selain itu juga diikuti dua orang calon Kader, yaitu Cakra Malik dan Burhanuddin,” paparnya. (d’)

Related posts