Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara Lakukan Pelindungan Sastra Lisan

Kemudian pada 28 Juni – 3 Juli 2021, Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara melakukan pemetaan sastra lisan di Kabupaten Halmahera Barat, yaitu di Desa Talaga, Desa Loce, Desa Awer, dan Desa Taraudu.

Konsep pemetaan sastra (mapping literature) dalam penelitian pemetaan sastra ini berupaya memetakan khazanah sastra (mapping the wealth of literature) yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat tutur bahasa lisan pada wilayah Provinsi Maluku Utara. Informan yang terlibat mulai dari masyarakat adat, tokoh adat, pemilik sastra lisan, dan pemerhati budaya.

Kegiatan ini bertujuan untuk menjaring semua data-data terkait sastra lisan yang ada di Kabupaten Halmahera Barat. Data yang diperoleh berupa sastra lisan Mai’o, Pantun/syair, Cum-cum/teka-teki, Dolabolo, Bobita/sambutan, Siloloa/mempersilakan makan, dan cerita rakyat Talaga Rano. Hasil dari pemetaan inilah yang nantinya diolah untuk kemudian dilakukan tindak lanjut misalkan dilakukan kajian vitalitas, konservasi, dan revitalisasi.

Selanjutnya pada 23—27 Agustus 2021, dilakukan kajian vitalitas sastra lisan di Mai’o, yakni di Desa Gamtala, Desa Awer, dan Desa Loce, Kabupaten Halmahera Barat. Kajian vitalitas sastra merupakan tahapan lanjutan dalam pelindungan sastra setelah dilakukan pemetaan sastra. Tujuannya untuk mengukur sejauh mana daya hidup atau status kebertahanan hidup sastra lisan yang ada di kabupaten tersebut.

Status sastra lisan itu berimplikasi pada tindakan yang perlu dilakukan, apakah perlu dilakukan konservasi, revitalisasi, atau konservasi sekaligus revitalisasi. Adapun sastra lisan yang menjadi objek kajian vitalitas adalah Mai’o.

Penunjukan Mai’o sebagai objek kajian dilihat berdasarkan data yang sudah dikumpulkan sebelumnya pada pemetaan sastra dan berdasarkan persebaran bahasanya, yaitu bahasa Sahu yang tersebar di Desa Gamtala, Desa Loce, dan Desa Awer.

Mai’o (bahasa Sahu) merupakan jenis berbalas pantun yang disampaikan pada pesta adat, pernikahan, pesta panen, penyambutan pejabat. Mai’o selain menggunakan bahasa Ternate juga menggunakan bahasa Sahu. Tidak hanya disampaikan di rumah adat saja tetapi bisa disampaikan di mana saja.

Pelisanan Mai’o bisa dibawakan tanpa alat musik maupun dengan menggunakan alat musik seperti tifa, gong, dan harmonika. Pantun berbalas ini dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan disertai alat musik, pantun yang disampaikan akan berirama seperti nyanyian.

Related posts