Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara Lakukan Pelindungan Sastra Lisan

LITERASI INDONESIA – Sepanjang tahun 2021, Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara telah menjalankan program-program prioritas dalam upaya pelindungan sastra lisan di wilayah Maluku Utara.

Sebagai unit pelaksana teknis  (UPT) di bawah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek, Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara melakukan program konservasi bahasa dan sastra, kajian vitalitas bahasa dan sastra, pemetaan bahasa dan sastra, dan inventarisasi kosakata bahasa daerah. Kali ini, hampir seluruh program tersebut fokus pada sastra lisan di daerah Maluku Utara.

Pada 8 – 14 Maret 2021, Kantor Bahasa Provinsi Maluku Utara melakukan kegiatan konservasi sastra lisan untuk mendokumentasikan sastra lisan Mantra yang ada di Tidore Kepulauan.  Orang Tidore menyebut mantra sebagai OlisouOlisou adalah kalimat sakral yang diyakini mampu menghasilkan sesuatu yang diinginkan. 

Tradisi lisan ini, menurut beberapa sumber di Tidore, ada sejak zaman Momole. Mantra tersebut dituturkan sendiri, membutuhkan tempat yang steril  atau sunyi, dan tidak  menggunakan alat musik. Tuturan dilakukan pada media yang berbeda sesuai dengan kegunaannya. Bahasa yang digunakan umumnya bahasa Tidore. Namun tidak semua mantra bisa didokumentasikan, melainkan hanya mantra tertentu saja, seperti mantra penentuan hari baik dan mantra membuka lahan.

Pendokumentasian ini penting, mengingat kondisi sastra lisan Mantra yang kini berstatus terancam punah. Masyarakat yang bisa menuturkan sastra lisan sudah terbatas dan umurnya pun sudah lanjut.

Sementara itu, regenerasi tidak berjalan dengan baik sehingga perlu dilakukan konservasi. Konservasi dalam konteks pelindungan sastra berarti upaya menjaga dan melestarikan terhadap kemusnahan atau kerusakan dengan kata lain mempertahankan dan mengembangkan sastra agar tetap digunakan oleh masyarakat pemilik sastra sebagai warisan budaya.

Kegiatan konservasi sastra lisan ini berlangsung di dua lokasi, yaitu di Area Kedaton Kesultanan Tidore dan Desa Gurabunga, dengan melibatkan masyarakat adat, tokoh adat, pemilik sastra lisan, dan elemen pemerintah terkait seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tidore Kepulauan.

Rangkaian kegiatan pelindungan Bahasa dan Sastra yang bisa dilakukan adalah pemetaan sastra, kajian vitalitas, dan konservasi (sastra lisan, manuskrip, dan sastra cetak).

Related posts