Kembangkan Pencak Silat, Pesilat Tapak Suci Harus Tingkatkan Literasi

LITERASI INDONESIA – Pengembangan literasi dipastikan sebagai sebuah kebutuhan smeua elemen bangsa. Bukan hanya pada tataran pendidikan formal, namun literasi juga menyentuh semua kebutuhan warga negara.

Salah satunya pada bidang Literasi Budaya, khususnya pengembangan Pencak Silat sebagai salah satu tradisi kebanggaan bangsa ini. Dibutuhkan peningkatan literasi para pelakunya agar semakin menguat dalam berbagai bidang keilmuan, karena silat dan pencak silat tidak hanya persoalan tata gerak semata.

Menyoal hal tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Tapak Suci Putera Muhammadiyah (PP TSPM) Muhammad Afnan Hadikusumo saat dimintai pendapat seputar pentingnya literasi di kalangan pesilat khususnya Anggota Tapak Suci Putera Muhammadiyah mengatakan, tradisi pencak silat tidak bisa dilepaskan dari tradisi baca dan tulis.

“Pada zamannya transfer ilmu perguruan pencak silat dilakukan melalui teori, praktek, dan pendalaman melalui bacaan kitab2 kuno. Di masa depan, transfer knowledge akan lebih banyak dilakukan melalui transformasi teknologi informasi. Ini akibat dari pesat perkembangan teknologi,” demikian ungkap tokoh pencak silat nasional tersebut kepada Literasi Indonesia, Senin (20/9) melalui aplikasi berbalas pesan.

Menurutnya anggota DPD RI dari daerah pemilihan DI Yogyakarta itu, kunci kesuksesan suatu bangsa di masa depan adalah, jika masyarakatnya menguasai teknologi dan mayoritas melek literasi.

“Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Alaq,” sebut penyandang gelar Pendekar Utama di perguruan berseragam merah merah tersebut.

Secara terpisah beberapa hari lalu, Ketua IV bidang Pemberdayaan, Hukum dan Disiplin PP TSPM Chairul Muriman Setyabudi mengatakan, pengembangan budaya literasi di kalangan pesilat Tapak Suci menjadi begitu penting mengingat Tapak Suci adalah organisasi beladiri yang sangat besar.

“Termasuk bagaimana kita mengapresiasi karya tulis yang selalu ada pada tiap Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Kader TSPM. Ini tentunya akan berefek pada peningkatan literasi Anggota TSPM itu sendiri,” ujarnya.

Senada dengan itu, Nova Indra, salah seorang Anggota TSPM di Kota Malang yang aktif di dunia literasi menyebut, dari waktu ke waktu pembelajaran pencak silat membutuhkan literatur yang harus terjaga kelestariannya. Karena itu, tentu saja dibutuhkan upaya tersendiri untuk menggagas peningkatan budaya literasi di kalangan pesilat.

“Misalnya, seperti yang disampaikan Ketua IV PP TSPM itu, setiap UKT Kader di Tapak Suci, per angkatan dapat melahirkan karya tulis berupa kumpulan artikel tentang silat dan pencak silat. Dan untuk itu dibutuhkan kajian-kajian bersama terkait pencak silat tersebut yang bisa saja dibagikan kepada peserta UKT. Akhirnya akan lahir karya tulis Anggota Tapak Suci di setiap daerah. Ini tentu turut membesarkan nama TSPM sebagai organisasi pencak silat,” terang penulis buku Membangun Kecerdasan Spiritual; Implementasi Filosofis Beladiri Minagkabau itu. (d’)/Foto: Courtesy akun FB Dadang Saputra

Related posts