Adat Periuk Berkarat Adat Lesung Berdedak, Hati-hati dengan Kebaikan Semu

LITERASI INDONESIA – Adat periuk berkarat, adat lesung berdedak. Ungkapan ini menyatakan bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna, pasti ada kelebihan dan kekurangan. Begitu pula manusia.

Namun bukan berarti kita bisa jadikan tameng untuk sekedar menutupi diri dari segala kekurangan yang terus-menerus dilakukan. Manusia adalah makhluk dinamis yang terus bergerak ke depan.

Apapun keadaannya, ia akan menuju satu titik tertentu dalam hidup. Bukan malah mundur, kembali pada keburukan seperti masih hidup di masa jahilyah.

Merubah kebiasaan, perilaku yang buruk menuju kebaikan, memang bukan sesuatu yang mudah. Untuk hijrah di jalan kebenaran akan melalui beragam rintangan. Tapi hanya manusia yang punya setitik kebaikan dalam hatinyalah yang akan tersentuh pada nilai-nilai ketuhanan.

Seorang teman bercerita tentang kisah hidupnya pada tim Pojok Hikmah media ini. Kisah yang mungkin beberapa orang di dunia ini pernah mengalaminya dan memiliki ending yang sama. Kisah ini ia alami beberapa tahun silam.

“Saya menikahi seorang wanita (setahu saya, biasanya ia menyebutnya dengan kata ‘perempuan’). Atas ijin ayah, pernikahan itu berlangsung. Istri saya memiliki dua orang putri. Lahir dari pernikahan yang tidak sah karena sudah lebih dulu mengandung anak pertamanya. Bahkan saat anak sulungnya menikah, pihak KUA pun angkat tangan dan menyebutkan bahwa kedua anaknya tidak memiliki wali nasab. Karena mereka lahir dari perzinaan.”

Ia melanjutkan. “Lalu saya menawarkan padanya untuk hidup yang lebih baik. Bukan persoalan duniawi, tapi baik dalam arti yang sebenarnya. Hidup di jalan kebaikan. Walaupun saya juga tidak mengatakan bahwa saya adalah yang terbaik.”

Lama ia terdiam. Penulis berusaha untuk berempati agar kisahnya dapat mengalir untuk diambil hikmah yang ada di sana.

“Kami pun hidup bersama. Namun anak-anaknya tidak pernah menyukai kehadiran saya sejak awal. Tapi karena keteguhan hati yang diperlihatkan wanita itu, semua kami lalui. Dan jadilah kami pasangan yang disenangi orang sekitar. Tetangga dan sanak saudara pun menyukai. Tapi itu awalnya saja,” katanya sambil menyeruput kopi hangat yang baru dihidangkan.

Penulis pun menunggu beberapa saat. Tampaknya ia sulit mengungkapkan dengan kalimat-kalimat ringan. Pertanda begitu dalam luka yang ia derita.

“Adat ayam ke lesung, adat itik ke pelimbahan. Tabiat yang turun-temurun dan sudah terbentuk sekian lama, sukar sekali mengubahnya. Ibarat anjing liar, dibuatkan kandang mewah dan disuguhi makanan halal pun tetap ia tidak nyaman. Ia akan tetap mencari jalan untuk keluar, bebas untuk kembali ke comberan, makan kotoran.”

Perbincangan kami terhenti ketika seorang teman menelepon dan mengabarkan kerjaan baru di salah satu daerah di Jawa Timur. Dan itu merupakan keberuntungan yang tak diduga. Dan selesai teleponan, kami pun lanjutkan diskusi kehidupan ini.

“Singkat cerita, karena masukan anak-anaknya, saya dibuang dari kehidupannya. Ini berawal ketika saya menceritakan bahwa saya memiliki seorang anak yang beranjak dewasa. Dan itulah yang didiskusikannya sebagai pemicu untuk mengusir saya.”

Ada kemarahan di wajah lelaki di depan saya ini. Saya sangat mengetahui siapa dia, dia memiliki kekuatan hati untuk menahan diri agar tidak melakukan keburukan pada orang-orang yang ia sayangi. Walaupun di wajahnya terpendam sesuatu yang tidak semua orang akan mengerti.

Saya pun mengatakan, “biarkan semua itu jadi masa lalu. Karena hidup tidak akan berhenti hanya karena seorang wanita yang tak pantas dijadikan teman hidup. Biarkan waktu memberinya pelajaran, mungkin saat ini dia sedang bersorak gembira dengan anak-anaknya karena berhasil membuangmu. Tapi suatu ketika, saat anak-anaknya mulai memperlihatkan siapa mereka sebenarnya, si wanita itu akan alami ujung hidup yang bisa kita dengar dan saksikan bersama.”

“Iya, saya yang salah. Saya mengedepankan keinginan untuk berbuat baik dengan mengorbankan semua yang saya miliki. Tapi pelajaran ini akan saya jadikan guru kehidupan. Ini sudah keduakalinya. Dan tidak akan yang ketiga,” ucapnya lirih sembari memasukkan smartphone ke dalam tas kecil yang melingkar di bahunya lalu pamitan dan berlalu dari depan tim Pojok Hikmah.

“Lain kali akan saya ceritakan bagaimana dia tetap berhubungan dengan lelaki yang menzinainya selama 23 tahun,” ucapnya sambil menstarter mobil di depan warung kopi tempat kami berbincang.

Begitulah kehidupan. Tidak semuanya sesuai dengan keinginan. Kadang, niat baik pun dimanfaatkan orang lain untuk kepentingan sepihak.

Kembali ke awal tulisan ini, semua kita adalah makhluk yang sarat dengan kesalahan. Tapi bukan berarti harus bangga dengan masa lalu yang buruk dan berusaha mendepak kehidupan yang lebih baik hanya karena tergiur sesuatu yang tampaknya indah.

Hikmahnya, pilihlah jalan hidup yang baik, jangan sekali-sekali menuruti hawa nafsu dan kemarahan. Karena tak satupun kebaikan pada orang-orang yang hidupnya dilingkupi hawa nafsu yang sebagian besarnya diselubungi setan.

Dan, bila harus menyelamatkan kehidupan seseorang, tidak perlu terburu-buru. Ibarat melepaskan anjing terjepit, setelah lepas kita akan digigit. Masih banyak di luar sana orang yang layak dijadikan teman hidup menuju ridha Sang Khaliq. (*/gambar ilustrasi: google image)

Related posts