Bijak Bertindak Untungkan Diri, Bila Tidak Periuk pun Mengumpat Belanga

LITERASI INDONESIA – Api padam puntung berasap, begitu adagium Melayu menjelaskan tentang semua persoalan hidup yang tak ada habisnya. Setiap masalah yang diselesaikan, meninggalkan bekas, bahkan kadang bekasnya itu yang lebih besar daripada akar persoalan.

Adakalanya dalam hidup ini, kita bisa selesaikan setiap persoalan dengan mudah. Membawanya ke dalam kejernihan pikir, lalu bersalaman untuk mengakhirinya dengan kesepakatan yang lahir dari nurani.

Tapi tidak begitu bila masalah yang baru selesai dibawa ke dalam cerita bersama orang-orang di luar diri. Hasutan, masukan yang negatif, kadang kita anggap sebagai sesuatu yang positif. Dan jadilah semua persoalan yang telah selesai sebelumnya mentah kembali. Memupuk api menjadi berkobar, bahkan kadang membuat diri pun ikut terbakar.

Itulah manusia, mudah terbawa ke dalam jurang masalah hanya karena alasan yang diadakan dan dipaksakan. Tapi hanya mereka yang tidak punya pendirian saja yang seperti itu.

Bagi manusia yang teguh pada keistiqamahan, setiap persoalan adalah saat untuk mendewasakan diri. Bukan malah menjadikannya alasan untuk berlawanan dengan fitrah kemanusiaan.

Karena mulut badan binasa. Inilah yang sering terjadi dalam diri manusia tanpa pendirian. Bicara pada tempat yang salah, tidak sebanding, apatah lagi pada mereka yang punya tendensi, akhirnya diri pun ikut terkena masalah. Walau di awalnya bisa tertawa bersama dengan mereka, tapi tidak akan lama, suatu ketika diri sendiri akan jadi korban berikutnya.

Jiwa-jiwa yang dewasa, jiwa yang telah memahami rahasia alam, tidak akan mudah menempatkan posisi orang lain dalam setiap persoalan yang dihadapinya sebagai pemberi nasehat, pemberi masukan. Ia akan mendengarkan setiap kata orang, anak sekalipun, sebagai orang lain di luar diri.

Hal itu karena bisa saja tendensi dari pihak luar bukanlah sesuatu yang baik. Mungkin terkesan baik pada zahirnya, tapi tidak bagik secara hakikat.

Sebagai contoh, untuk memutuskan langkah dan pilihan bagi seseorang, ketika keluarga, teman, bahkan anak, mungkin turut memberi pandangan serta pendapat. Namun, bila ucapan mereka yang dijadikan dasar berpijak sebagai alasan, siapa yang rugi bila pendapat mereka salah? Bukan mereka, karena mereka hanyalah orang lain dalam urusan pribadi.

Mereka bukanlah pihak-pihak yang akan berasyik-maksyuk dengan anda. Mereka hanya akan melihat, menyaksikan setiap ucapan mereka anda pakai. Mereka tertawa, karena berhasil memosisikan anda sebagai kacung. Kacung dalam artian hakikat.

Saat anda terpuruk ke dalam kondisi pada titik nadir, hadirlah mereka menolong? Tidak! Mereka hanya akan melihat dari jauh, datang untuk sekedar memberi semangat agar tak terlihat sebagai pihak yang telah menjerumuskan anda pada jurang kesulitan.

Periuk pun kadang mengumpat belanga. Orang buruk kadang membicarakan tentang keburukan pihak lain dengan sengaja. Walau pada dasarnya yang dibicarakannya adalah fitnah yang Tuhan pun tak akan mau tahu penyelesaiannya.

Karena itu, setiap persoalan dalam hidup, adalah permainan masa yang mengharuskan kita lebih dewasa bersikap. Lebih bijak bertindak. Jangan terpuruk karena masukan siapapun, jangan bangga karena dukungan semu dari siapapun. (*/Ilustrasi: pixabay)

Related posts