Ketika Rasa Menang dalam Genggaman, Bagaimana Sepimu?

LITERASI INDONESIA – Setiap makhluk bernama manusia, tak pernah luput dari salah dan khilaf dalam perjalanannya. Karena itulah Sang Khaliq memberinya nama ‘insan’, makhluk yang pelupa.

Setiap kita, punya kisah dan cerita yang tak pernah lekang oleh waktu bila diungkit dan dilabeli tiap-tiapnya dengan keburukan, kesalahan, kealpaan. Tapi hidup tak serendah itu, karena setiap datang keingkaran dalam diri, bisa dihapus dengan istighfar dan kembali ke jalanNya.

Begitu ringannya nilai kesalahan dalam diri manusia di hadapan Sang Khaliq. Ia bukan Dzat yang kejam seperti makhluk, Ia bukan pula Dzat yang angkuh dan sombong seperti manusia yang sarat dengan noda dan dosa.

Tiap kesalahan, Ia akan ampuni bila jalan yang ditempuh kembali di rel yang benar dan sesuai tuntunanNya. Tidak seperti manusia yang kejam dan sombong, merendahkan martabat orang lain dan menjatuhkannya ke dalam jurang tak berujung.

Pernah anda mendengar seseorang yang terusir hanya karena satu pengakuan? Ia berusaha memperbaiki hidup, ia tengah berupaya menjembatani setiap salahnya menuju kebaikan yang anda sendiri tak pernah mengerti.

Pernahkah anda melihat kenyataan orang yang membuat alasan yang hanya berdasarkan keinginan sesaat tanpa pertimbangan? Hingga memilih untuk sebuah keakuan tanpa tawar-menawar, mendepak kehidupan yang ia sendiri bangun dengan susah payah dan berdarah-darah?

Kebodohan. Ya, itulah kebodohan yang kadang bisa saja dilakukan manusia yang mengikuti amarah. Mengikuti bujuk rayu setan bermuka malaikat dengan segala senyum manisnya.

Apa pula yang lupa tentang bagaimana orang menerima dan mengangkatnya dari lumpur dan comberan. Membersihkan dirinya dari kesalahan, mengeluarkannya dari kehinaan di hadapan Sang Pemilih Ruh. Tapi ketika suatu kesalahan ada di hadapannya, ia berontak. Dengan garangnya menyebutkan bahwa hal itu tak lagi bisa diterima. Tak bisa diterima karena persekongkolan yang ia sendiri merupakan korban selanjutnya.

Padahal, ia tak pernah tahu, langkah yang dibawa seseorang lepas dari pintu pagar turut mengubur bahagia yang hakiki dalam jalan-Nya.

Sebelum menghakimi, lihatlah ke dalam dirimu. Berapa banyak kekurangan dan kealpaan yang kau perbuat, betapa ia dengan lapang dada mengelus rambutmu dan berkata, “biarkan masa lalu itu, biarkan ia pergi dan terbenam bersama mentari sore ini. Kini ada aku di sini, di sampingmu untuk menuju masa-masa yang harus dibangun dengan keyakinan dan cinta.”

Bila di antara anda pernah mengalami hal-hal di atas, segerelah sujud dan minta ampunan pada-Nya. Karena tidak ada bahagia yang dibangun atas kesepakatan jahat. Tidak ada keikhlasan yang timbul dari kekejaman akibat persekongkolan yang anda sendiri mungkin tak pernah tahu ada apa di baliknya.

Bila pernah mendengar di sekitar anda kejadian serupa, nasehatilah mereka. Berikan tuntunan, bukan malah memojokkannya dengan pandangan sinis.

Karena semua kita pernah salah, kesalahan yang kadang benar-benar di luar batas. Tapi masih ada yang menerima dengan tangan terbuka.

Saat sepi mendera, diamlah sesaat. Tatap setiap sejarah diri, ukur di manakah kelayakan untuk angkuh dan sombong pada manusia. Bila ditemukan tumpukan kekurangan dan kesalahan, segeralah berbalik arah. Tetapkan langkah, pilian selalu ada. (*)

Related posts