Saat Suteramu Ternyata Palsu, Biarkan Ia Kembali ke Habitatnya

LITERASI INDONESIA – ‘Sungguh pun cantik sutera diuji, belacu juga tahan dipakai’. Begitu adagium yang tercipta dari tutur leluhur Melayu, memberi makna pada anak keturunannya agar tak salah memahami hidup.

Siapa yang tak senang bila mendapatkan pakaian sutera? Siapa yang tak bangga bila dihadiahi kehidupan bersama sosok yang terlihat baik dan mau diajak pada jalan Allah? Semua akan senang, semua akan menangkupkan kedua tangan sebagai pertanda syukur kepada-Nya.

Tapi nyatanya, sutera bukanlah sembarang kain. Selain mahal dan bernilai tinggi, sutera sering dipalsukan. Hardcopy sutera bertaburan di pasaran, manusia-manusia layaknya sutera pun tampil memukau setiap pandangan mata di jalanan. Tapi itu tetaplah bukan sutera, ia hanya menyerupai saja.

Karena itu pula setiap orang akan menguji keaslian sutera. Tak ada yang percaya bila selembar sutera dipamerkan tanpa uji kelayakan sesuai standarnya.

Dalam hidup, setiap manusia yang tampil layaknya sutera, harus diuji agar ketahuan palsu atau kukuh eksistensinya. Manusia yang mirip sutera masih berseliweran di jalanan. Pandangan mata bisa saja tertipu karena kemilaunya. Persis sama dengan yang asli, tak ada beda sama sekali.

Bila dianalogikan semua itu pada kehidupan nyata, banyak orang yang pura-pura baik dan ‘manut’ pada kebaikan, walau pada dasarnya ia adalah makhluk liar jalanan yang tak mungkin diajari tentang mana yang benar dan mana yang salah.

Banyak pula orang-orang cerdas tertipu dengan semua gemerlap yang ditampilkan. Tutur yang baik, wajah yang tertunduk, seakan mulia dari segala pengkhianatan. Tapi sebenarnya, setelah proses uji, ia akan kembali pada jatidiri.

Ibarat anjing liar, dimandikan dan diberi kehangatan dalam lindungan rumah kebaikan, diberi makan dengan sesuatu yang baik dan halal, namun saat ia dibiarkan lepas, ia akan kembali ke comberan, memilih memakan dari tumpukan kotoran. Baginya itulah yang baik, itulah habitatnya.

Lalu apa bubungannya adagium di atas dengan belacu? Belacu adalah sejenis kain yang terbuat dari bahan-bahan kasar. Kain belacu memiliki tekstur yang kasar dan warna yang agak kekuningan. 

Hampir tak ada yang mau bila harus memakai belacu sebagai bahan pakaian. Belacu lebih banyak digunakan untuk alat-alat penyimpanan, sebagai pembungkus gula hingga tepung terigu. Walau pada era modern belacu sudah mulai digunakan sebagai bahan tas belanja, taplak meja, dan lain sebagainya. Tapi belum ada yang berani mendesain pakaian mengunakan jenis ini.

Padahal, belacu adalah kain yang tahan dalam segala musim. Belacu dengan serat kasarnya, tetap mampu menemani manusia di keseharian.

Kalau dinisbahkan pada pribadi manusia, ia adalah orang-orang yang kuat dan kukuh pada pendirian. Ia adalah sosok yang mungkin tak bisa dibawa ke jamuan makan berkelas, tapi ia adalah teman hidup yang mampu menjadi sandaran kala lelah, jadi tongkat saat tubuh mulai rapuh.

Lalu bagaimana membentuk karakter manusia agar kukuh pada jalan kebaikan? Walau diakui, setiap orang punya salah, setiap manusia memiliki kisah di masa lalu yang tak semuanya baik dan menyenangkan?

Kembali pada adagium Melayu, ‘melentur buuh dari rebungnya.’ Pembentukan karakter, sebagai manusia baik dan tunduk pada aturan dan tuntunan Sang Khaliq, hanya dapat dilakukan ketika masih muda, masih belia. Pendidikan yang dimulai sejak dini, hingga tertanam dalam dirinya sebagai bekal di sat dewasa nanti.

Nah, bagaimana kalau anda mendapati orang-orang di dekat anda yang tak terbiasa dengan didikan kebaikan? Punya masa lalu suram, hidup dalam perbuatan melawan hukum Tuhan, atau layaknya makhluk jalanan yang tak tahu mana buruk dan baik?

Sabar, anda bukanlah satu-satunya manusia yang diberi tangungjawab untuk itu. Anda tidak perlu menangis dan luluh karenanya. Tak mungkin pohon bambu yang sudah tua, sudah berkulit keras dapat dilenturkan dan dibentuk sesuai arah yang anda mau. Biarkan ia seperti yang telah ada.

Kalau ia adalah orang terdekat anda? Risiko pilihan tetap harus anda jalani. Tapi yakinlah, sutera tetaplah sutera bila ia asli. Kalau ia palsu, waktu pun akan memberitahu. Suatu ketika akan tiba masanya anda menemukan jalan untuk pergi. Pergi dan membiarkan ia kembali ke comberan, luntur aura suteranya dan muncul keasliannya. Dan biarkan ia kembali ke habitatnya. (*/ilustrasi gambar: google image)

Related posts