Rendahnya Akal Budi, Penyebab Manusia Bersekongkol dengan Iblis

LITERASI INDONESIA – Setiap perbuatan dan tindakan pasti saja ada risiko. Apalagi yang dilakukan itu merupakan perbuatan buruk, persekongkolan jahat, atau tindakan untuk merugikan orang lain.

Di zaman yang kian modern dengan teknologi dan keunggulan revolusi industri ini, perilaku manusia ternyata tidak banyak berubah. Teknologi boleh saja maju dengan segala piranti mutakhirnya, tapi manusia ternyata tak sanggup mengiringi.

Masih ada saja tindakan-tindakan tak terpuji dilakukan orang demi meraih keuntungan dan kepuasan diri sendiri. Bahkan ada yang tak mampu mengendalikan diri dengan melakukan tindakan klenik alias perdukunan.

Perilaku jahiliyah, mengedepankan nafsu demi meraup sesuatu, memanfaatkan keadaan dengan melakukan tindakan tak terpuji, berseliweran dalam bincang warga. Masih jamak ditemui obrolan tentang santet, teluh, dan lain sebagainya yang ditujukan pelakunya pada seseorang.

Semua itu melambangkan kerendahan budi. Kehilangan pegangan dan pedoman akal yang seharusnya bersandar pada takdir yang telah ditetapkan oleh Sang Khaliq, Sang Penentu segala nasib dan rupa perjalanan makhluk di alam ini.

Namun bagi mereka yang memang rendah akal budi, segala kesempatan dimanfaatkan untuk mendapat keuntungan semata. Keuntungan yang kadang tidak berbentuk materi, tapi dalam bentuk immateri, kepuasan batin, kepuasan yang lahir dari nafsu iblis yang bersarang di hati tak bertuhan.

Dan ketika dalam hati manusia telah dipenuhi keburukan dan kebusukan, maka bertenggerlah sifat setan dan iblis di dalamnya. Bisikan-bisikan untuk melakukan kejahatan yang tak terlihat, kadang menjadi pilihan bagi ruh yang kotor, ruh yang tidak pernah disentuh kesucian Ilahi.

Di sini, kerap pula terjadi proses menipu diri sendiri, dengan alasan yang berasal dari bisikan jahat iblis, manusia kadang permisif. Menganggap tindak-tanduknya dibenarkan.

Bisikan ‘demi kebaikan bersama’ pun kadang muncul di telinga-telinga yang tak kenal ayat-ayat Allah. “Bukankah kita hanya berniat untuk kebaikan? Walau jalannya kadang sedikit nyerempet?” Begitu kadang nyanyian setan dalam bilik-bilik gendang telinga yang terus mengalir ke hati manusia-manusia jahiliyah.

Bila anda pernah dibisiki dengan bisikan seperti ini, maka di saat itu anda harusnya segera menyadari, diri anda sedang dibawa ke dalam kehancuran yang hakiki. Tak peduli siapa anda, rajin shalat, sudah berhaji atau pernah pergi umrah, bila masih saja bisikan iblis mampu menguasai diri anda, maka di saat itu sebenarnya anda sudah tidak lagi manusia. Anda sudah berubah jadi iblis dan pengikutnya.

‘Tangan mencincang, bahu memikul.’ Begitu adagium yang selalu disampaikan leluhur orang-orang Melayu. Hal itu bukan isapan jempol. Karena setiap perilaku, tindak-tanduk yang dipergakan manusia dalam hidupnya, akan berbalik pada waktunya untuk mempertanggungjawabkan.

Hikmahnya adalah, bila anda merasa menang dengan melakukan persekongkolan iblis, hakikatnya anda sedang menuju kehancuran diri. Itu bila masih ada sifat-sifat iblis yang anda gunakan sebagai tameng untuk berbuat keburukan pada orang lain.

Selanjutnya, bila anda masih gamang melakukan hal demikian, pertanda ada sedikit kebaikan yang bersarang dalam hati nurani. Segera istighfar, pulangkan semua pada Allah.

Namun bila anda terlanjur melakukannya, maka siapa menabur angin akan menuai badai. Itu pasti, sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari, tak dapat ditolak walau anda sujud di hadapan Tuhan sepanjang hidup. (*/gambar ilustrasi: republika)

Related posts