Long Trip Malang-Padang (Bagian 2)

LITERASI INDONESIA – Perjalanan menuju Padang ternyata harus dilalui dengan beberapa proses panjang. Ketika memasuki wilayah Riau, perut yang tadinya tidak bermasalah kini terasa begitu sakit. Tiba-tiba. Tak ada tanda-tanda apapun sebelumnya.

Saat itu masih sekitar pukul 15.00. Masih sangat jauh menuju Pekanbaru. Ah, benar-benar melelahkan, membaur dengan suasana hati yang sedang memendam banyak persoalan.

Saat masih merasakan sakit yang begitu kuat di bagian perut, sesuatu yang tak boleh terjadi pun terjadi. Semua karena keterpaksaan. Ada emosi yang meluap karena terdesak dan seolah terjebak dengan situasi. Dan kalimat-kalimat itu pun tertulis sudah.

Tapi biarlah semua seperti ini. Karena keinginan pihak lain harus segera ditunaikan. Biarkan mereka bergembira dan tertawa bahagia. Biarkan mereka merasakan kemenangan tersebab alasan yang dicari sebagai trigger. Biarlah waktu yang memberinya pelajaran, biarkan masa yang membuatnya sadar pada perlakuan yang tak biasa.

Perut yang semakin sakit entah kenapa, kian menambah derita perjalanan layaknya orang terusir ini. Tiba di Pekanbaru, bergegas untuk menuju rumah sakit terdekat. Di daerah Panam Pekanbaru, klinik yang masih buka pun jadi pilihan. Segera saja para tenaga kesehatan di sana menangani dan memberi obat penghilang rasa sakit.

Pemeriksaan kesehatan dengan protokol kesehatan pun harus dilalui. Nakes dengan APD lengkap terus memeriksa dan melakukan pengecekan. Karena ada kecurigaan Covid-19 yang menyerang tubuh ini.

Namun dalam diri ada keyakinan, ini bukan Covid, karena sejak awal virus itu menyerang dan mewabah di negeri ini, ia telah hinggap dan memaksa tubuh yang tak lagi muda ini meringkuk setelah turun dari pesawat di awal tahun lalu.

Sekitar setengah jam di klinik itu, akirnya pemeriksan pun selesai dan dokter jaga yang menangani bahwa itu bukan karena Covid-19. Alhamdulillah, dan perjalanan bisa dilanjutkan. Sudah hampir dinihari ketika itu.

Sekian jam lamanya dengan suasana yang tak mendukung pun dilalui dalam perjalanan ini. Dan ketika semburat mentari di Timur sana terlihat, kami pun telah memasuki daerah tujuan. Tapi semuanya belum berakhir.

Petugas pintu masuk daerah pun mencegat di tengah jalan. Pemeriksaan pun  dilakukan. Untung saja ada beberapa data diri yang membuat mereka yakin bahwa kami boleh memasuki daerah itu. Apalagi saya dengan surat keterangan terbaru dari Pekanbaru menyatakan tidak dalam kondisi positif virus Corona.

Pagi hari. Gunung Marapi dengan kegagahannya pun telah menanti dengan sejumput awan menghiasi puncaknya. “Kita bertemu kembali,” ujar saya dalam hati saat memandang Marapi. Karena ada ikatan tak nyata yang ada dalam diri ini dengan gunung yang gagah menjulang itu.

Setibanya di lokasi tujuan, hari pun menunjukkan pukul 08.00 WIB. Lereng Marapi kian tegak menantang ketika kami melangkah menuju kediaman keluarga. Dan di saat pintu-pintu rumah mereka terbuka, sapaan hangat terdengar dipadu senyuman ramah. “Tuanku Mudo baru pulang…” kata mereka seolah bicara pada diri mereka sendiri.

Ya, begitulah mereka menyambut saudara ketika pulang ke kampung. Kampung tempat darah tertumpah dari seorang bapak yang kini terbujur di liang lahat dalam haribaan Tuhan.

Seketika, airmata tak bisa dibendung. Di sinilah darah itu mengalir hingga membentuk tulang dan tubuh. Tapi beliau tak lagi ada di sini seperti biasa ketika menyambut anak satu-satunya pulang ke pangkuan.

Saat bercengkerama dengan keluarga bapak, dengan sisa-sisa airmata kami saling berkabar. Berbincang tentang segala hal yang sama-sama kami terlupa sebelumnya.

Dan satu kalimat pertanyaan dari mereka kembali membuat keterpanaan seolah menjadi satu-satunya cara untuk memberi jawaban. “Kenapa pulang sendiri? Mana menantu kami?” Biarlah semilir angin di suasana pagi itu yang memberikan jawaban, karena tubuh ini terlalu lelah untuk beralasan.

Saat pamit untuk istirahat , keponakan bapak yang hampir seumuran bertanya lagi. “Tidak perlu dijawab, cukup perbincangan hangat ini jadi kebersamaan yang lama tak dilalui.”

Karena benar-benar lelah, mata pun langsung terpejam saat bantal hangat dan ranjang tua di kamar menyambut mesra. Sendiri, ya, sendiri. Tapi tak lama ada desakan untuk bangun. Entah karena hati yang benar-benar sepi. Atau karena keinginan tertunduk dalam doa di makam bapak.

Setelah mandi dan bersih-bersih, langkah pun membawa tubuh lelah ini menuju pemakaman keluarga di Sungaipuar, lereng Marapi. Dan di sana, nisan bertuliskan Abdul Aziz pun menanti sejak dua tahun silam.

Baru saja duduk di samping makam, tangis pun tak terbendung. Airmata yang sudah mengering kembali banjir dan menyapu suasana siang itu. Sepi di sana. Sepi juga di hati ini. Sepi yang menghujam hingga masuk ke relung terdalam dalam diri.

“Maafkan anakmu, pak. Maafkan semua yang pernah ada atas ijinmu, kini semua sudah jadi masa lalu. Maafkan juga atas ketidakmampuan mempertahankan cita-cita untuk bahagia. Mungkin bahagia itu milik orang lain, bukan milik anakmu ini…”  (bersambung ke bagian 3)

Related posts