Hukum Tanam-Tuai, Efek Sikap dan Sifat Manusia

LITERASI INDONESIA – Pernahkah anda melihat orang-orang yang tertawa dengan pongahnya setelah berhasil mengusir orang lain dari kehidupannya?

Ada beberapa hal yang menjadi persoalan di sini. Orang yang mengusir karena kebenaran, orang yang mengusir karena keterpaksaan, atau yang mengusir karena rencana kelicikan.

Ya, setidaknya ada tiga itu yang bisa kita bahas dalam tulisan ini. Dan nanti akan kita ambil bersama hikmah yang bisa dipetik darinya.

Kebenaran, adalah satu-satunya yang perlu dipertahankan dalam hidup. Kita tidak dianjurkan melakukan kesalahan. Maka setiap langkah manusia, diarahkan oleh setiap keyakinan pada perilaku benar dan menjalankan kebenaran yang ada tuntunannya.

Kadang dalam hidup, kita bisa saja bersama-sama dengan mereka yang melakukan ketidakbenaran atau kesalahan-kesalahan yang dapat berakibat fatal pada kelangsungan penghambaan manusia pada Sang Khaliq.

Nah, pada sisi ini, ada tindakan yang harus dilakukan agar hidup yang kita jalani tetap berada pada koridor kebenaran. Menolak orang-orang tidak benar dalam hidup adalah sebuah keniscayaan. Terlepas dari betapa cintanya kita pada mereka-mereka yang melakukan ketidakbenaran itu.

Inilah risiko bila memilih hidup dalam jalan kebenaran. Kadang  harus berani mengusir mereka yang tidak benar dari kehidupan kita. Dan itu adalah jalan kebaikan yang bisa dilakukan demi mempertahankan hidup dalam jalur kebaikan.

Namun harus diingat, ketidakbenaran yang bisa kita kita depak dari hidup adalah mereka yang telah jauh dari tuntunan Tuhan. Jauh dari sifat dan sikap penghambaan diri pada Sang Khaliq.

Lalu, ada pula orang yang mengusir karena keterpaksaan. Terpaksa melakukannya karena desakan pihak lain, atau karena pertimbangan untuk pihak lain.

Ini adalah pilihan hidup para jahiliyah. Orang-orang yang seperti ini adalah mereka yang tidak memiliki tujuan hidup. Tidak memiliki arah yang jelas dalam memaknai kemana akan melangkah. Ibaratnya, orang seperti ini adalah mereka yang tidak punya prinsip. Tidak mempunyai keteguhan hati.

Selanjutnya, orang yang melakukan pengusiran karena rencana licik. Kelicikan adalah sifat iblis dan setan. Sifat ini bisa saja melekat dalam diri manusia karena kurangnya pertimbangan, kurangnya pendalaman terhadap arti dan makna hidup yang sedang dijalani.

Sikap licik ini, mungkin sering terjadi pada mereka yang merasa lebih berkuasa pada diri seseorang. Biasanya, terjadi karena kepentingan semu. Kepentingan yang digadang-gadang merupakan pilihan untuk sesuatu yang tak menentu.

Mungkin saja anda pernah mengetahui semua perilaku di atas. Di tengah masyarakat, dalam keluarga, atau kisah-kisah perjalanan hidup seseorang, kerap terjadi persoalan-persoalan seperti ini. Namun, bagi anda yang pernah melakukannya, sikapilah hidup ini dengan baik. Belajarlah tentang kebaikan dan ketundukan pada Sang Penguasa Alam ini.

Ada hukum tanam-tuai dalam hidup ini yang sudah menjadi sunnatullah. Tak dapat dipungkiri, tak dapat dielakkan. Semua perilaku, tindakan, sikap dan sifat, akan ada ganjarannya. Siapa menanam pasti akan menuai, itu keniscayaan yang hakiki. Setiap manusia harus berani menerima semua tindak-tanduknya dalam hidup. (*)

Related posts