Long Trip Malang-Padang, Bersama Kenangan

LITERASI INDONESIA – Perjalanan panjang kali ini, terjadi begitu saja. Berawal dari persoalan-persoalan yang harus diselesaikan, dan tanggungjawab yang menanti. Ya, perjalanan dari Kota Malang menuju Sumatra Barat.

Kali ini, pilihan terakhir jatuh pada transportasi darat. Bukan tanpa alasan, ini karena kebijakan-kebijakan terkait protokol kesehatan (prokes) yang ditetapkan pemerintah dalam pergerakan orang di negeri ini.

Kalau biasanya penerbangan jadi pilihan karena dalam waktu singkat bisa sampai tujuan, ternyata perjalanan darat pun melahirkan kisah yang tak biasa, cerita yang penuh hikmah untuk dimaknai dengan baik.

Beranjak dari Kota Malang Senin siang tanggal 30 Agustus 2021. Cuaca yang agak mendung ketika itu turut menjadi teman perjalanan ini dimulai. Kata orang mendung tak berarti hujan, memang. Tapi kadang tanpa mendung pun hujan bisa turun deras dalam jiwa.

Menuju Kota Surabaya, senja pun mulai merambat turun. Gemerlap lampu-lampu kota mulai menghiasi langit di atas Kota Pahlawan itu. Dan lagi-lagi, tak ada mendung. Namun ada gerimis yang menerpa dalam diri. Gerimis yang turun karena alasan keberangkatan, alasan demi sesuatu yang tak dapat diungkap dengan kata-kata.

Kita, bisa saja pergi karena sebuah keinginan, tapi adakalanya kepergian itu bukan berasal dari kemauan, namun lahir dari keterpaksaan. Ya, begitulah hidup. Hidup yang terus bergulir walau kadang hanya karena menjalankan pilihan dari pihak lain, bukan pilihan sendiri.

Memasuki jalur tol menuju Jawa Tengah, kelam malam menjadi kawan. Seperti biasa, kelam melambangkan runtuhnya kebahagiaan. Kelam menunjukkan begitu dalamnya kejatuhan akibat sesuatu yang tak disangka, tak dikira. Tapi dalam kelam, kita juga bisa menyembunyikan derasnya airmata.

Sekitar pukul 10 malam, pintu keluar tol telah berada di depan mata. Lagi-lagi ini adalah pilihan, karena keinginan untuk mencoba memasuki kehidupan nyata di bawah tol, dengan lengangnya jalanan kota kecil sepanjang jalur utara Pulau Jawa.

Jawa Timur telah dilewati, tertinggal di belakang dengan segala kisah yang selama ini menjadi bagian hidup yang tak terlupakan. Ya, setiap menjejakkan kaki dan bermukim di suatu daerah, dipastikan setiap kita memiliki kenangan di sana. Bercampur-baur antara bahagia, atau angan yang merupa dalam segala bentuk realita.

Saat memasuki area Kota Semarang, malam pun kian turun, dini hari. Sekitar pukul 2 pagi ketika itu. Dan di sana, rombongan ini pun bertambah. Ada beberapa tim yang turut berangkat bersama. Iring-iringan yang mulai terjadi, walau tak layak disebut mengular, sedikit membuat riuh jalanan yang di kiri-kanannya warga setempat sedang melayang di antara dunia nyata dan dunia mimpi.

Dini hari itu terasa semakin dingin karena AC yang turut menurunkan suhu ruangan kendaraan. Dinginnya sampai menusuk jauh ke relung hati. Dingin yang tak biasa, karena ada sekelumit kisah yang harus dibenamkan sedalam-dalamnya di sana. Kisah anak manusia yang hidup di antara masalah. Ada sekerat luka, ada sejumput harap, dan segala macam yang berkecamuk tak berbentuk.

Singkat cerita, perjalanan ini makin jauh dari Kota Malang, kota pertama mesin-mesin buatan asing ini dinyalakan. Dan wilayah Jawa Barat pun telah dilalui separuh jalan. Hampir pagi. Dan beberapa jam kemudian, gerbang ibukota negara telah menanti dengan gagahnya. Gedung-gedung tinggi dengan lampu-lampu masih menyala, walau hiruk-pikuk manusia tak pernah mati di sana, menyambut kami dengan segala keangkuhannya.

Kadang, dari perpindahan wilayah dalam perjalanan ini, terbersit sebuah makna. Hidup persis seperti itu, kadang harus menerima kenyataan yang tak diinginkan, kadang harus memilih untuk terus diam, walau di sisi lain ada orang-orang yang tengah tertawa gembira karena merasa menang. Inilah hidup, harus diteruskan, menuju tujuan yang dicita-citakan.

Saat ibukota telah dilalui, menuju Merak saat ini. Dan pagi yang cemerlang dengan cuaca terang tanpa awan di langitnya, seakan membawa harapan baru. Harapan untuk bisa sedikit tersenyum, walau hati tak bisa didustai untuk terus bergelung dalam diam yang panjang.

Perut yang mulai teras lapar, menghentikan kami di sebuah lokasi istirahat sebelum Merak. Saat deru mesin mulai berhenti, kaki-kaki kami mulai melangkah turun ke pelataran. Celingukan melihat area warga yang berjualan 24 jam setiap hari. Ada beberapa pilihan, tapi seakan semua tak menarik. Tapi bagaimanapun, tanggungjawab pada tubuh yang sedari tadi butuh asupan, harus diselesaikan.

Di salah satu sudut pelataran itu, seorang laki-laki tengah merokok, ia bersandar di dinding mobil. Pakaiannya loreng, seragam lengkap aparat pertahanan negara. Anggota TNI AL. Kami pun bersalaman. Sama-sama menyebutkan nama, lalu tersenyum bersama walaupun seakan terpaksa. Karena satu keluarga besar, tentu keakraban dalam komunikasi mendadak seperti itu menjadi mudah terjalin. Dia adalah Abdul Salam, dari Surabaya, seorang anggota dari KRI yang tengah cuti dan berniat pulang kampung.

Kami pun sepakat untuk makan bareng di salah satu gerai makanan di sana. Dan tanpa diduga, teman yang baru saja bertemu itu berkata, “saya traktir abang.” Tentu ini bukan karena sekedar komunikasi yang terjalin tiba-tiba, tapi karena kedekatan dan rasa yang sama sebagai sesama keluarga besar.

Sambil makan, kami pun terus bercengkerama. Bercerita tentang tugas masing-masing, dan keluarga yang ditinggalkan jauh di belakang. Dan kami kemudian sepakat, untuk menuju Sumatra bersama.

Di penyeberangan Merak-Bakauheni, KMP Joy yang membawa kami berlayar dimanfaatkan oleh para ABKnya untuk mengisi waktu memberikan sedikit penerangan tentang protap keselamatan di laut. Dengan bahasa yang renyah dan tertata, semua penumpang di masing-masing dek kapal menjadi terhibur.

Tak terasa, dua jam kami lewati dengan kebersamaan itu. Dan di ujung sana, telah terlihat pelabuhan. Kapal pun merapat, bersandar dan menumpahkan seluruh kendaran dan penumpang dari sisi depan. Alhamdulillah, kami tiba di Andalas, pula Sumatra yang selama ini juga menjadi bagian dari kehidupan kami.

Perjalanan ini makin jauh dari Kota Malang, telah dipisahkan oleh Selat Sunda yang membentang cukup lebar. Tapi ternyata selat ini tak mampu memupus rindu di hati. Ia tetap bergejolak seperti tahun-tahun lalu. Walau kini tak lagi sama, rindu ini mulai buram.

Mungkin karena sebelum berangkat kesehatan tubuh tidak dalam kondisi prima, kepala mulai berdenyut, perut pun mulai bermasalah. Tapi apa mau dikata, tujuan masih jauh dan harus dikejar hingga tiba.

Dan akhirnya, semua terjadi begitu saja. Tubuh pun ambruk, tak sanggup lagi meneruskan perjalanan ini. Namun bukan berarti harus menyerah karena ini adalah pilihan. Pilihan untuk sesuatu yang harus dilakukan. (bersambung)

Related posts