New Normal, Mengembangkan Warisan Budaya dengan Riset dan Teknologi

LITERASI INDONESIA – Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid mengatakan, di masa pandemi ini kebudayaan memegang peran yang sangat penting dalam membentuk kenormalan baru atau new normal karena kebudayaan bisa menjadi sumber.

“Kita punya banyak warisan budaya, kekayaan intelektual yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ini adalah sumber daya yang luar biasa,” ujar Hilmar.

Warisan budaya dan kekayaan intelektual tersebut bisa dikembangkan dengan dukungan riset dan teknologi.

Ia mencontohkan salah satu warisan budaya yang akrab dengan masyarakat, yaitu jamu atau dikenal juga dengan sebutan empon-empon yang berguna untuk meningkatkan imunitas tubuh. Hilmar mengatakan, berbeda dengan obat yang memerangi penyakit, jamu berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tahan terhadap penyakit.

“Jadi bukan pengobatan, tapi pencegahan. Jadi pesan yang diberikan leluhur kita kepada kita adalah jangan tunggu sakit kemudian berobat dengan biaya besar, tapi cegah penyakitnya dengan mudah dan murah,” ujarnya saat menjadi pembina Apel Pagi Kemendikbudristek yang digelar secara virtual, pada Senin (16/8).

Hilmar mengatakan, Indonesia adalah negeri yang diberi kekayaan alam dan kekayaan budaya yang luar biasa. Para ahli menyebut Indonesia sebagai negeri mega-diversity karena memiliki keanekaragaman yang luar biasa, baik alam maupun budayanya.

Jamu yang dicontohkannya tadi hanya sebagian kecil dari keanekaragaman warisan budaya Indonesia. Resep jamunya pun merupakan kekayaan intelektual yang diwarisi dari generasi ke generasi.

“Potensi luar biasa inilah yang harus kita kembangkan. Buang jauh-jauh kesan bahwa ini barang kuno dari masa lalu yang tidak lagi relevan dengan kehidupan sekarang,” katanya.
Warisan budaya lain yang terkait dengan kesehatan dan bisa dikembangkan dengan riset dan teknologi adalah Kerokan, yaitu metode pengobatan tradisional untuk masuk angin.

Hilmar mengatakan, metode kerokan mirip dengan teknik memijat yang populer di Amerika dan Eropa sejak beberapa tahun lalu, yaitu Graston Technique. Graston merupakan teknik memijat yang menggunakan alat khusus dan menjadikan bagian tubuh yang dipijat menjadi kemerahan.
“Beberapa tahun lalu musisi Justin Bieber sempat ramai memperkenalkan teknik dan alat yang dipakai. Nama alatnya keren, Graston. Sudah dipatenkan, ada alatnya, ada teknik pijatnya, bahkan sudah ada orang yang ahi di bidang itu,” ujarnya.

Katanya lagi, teknik yang sama sudah dikenal selama puluhan tahun tapi tidak pernah dipatenkan. “Alatnya sederhana, cukup mata uang koin yang besar dan tebal. Namanya juga keren, Kerokan. Dan sudah ada terjemahannya dalam bahasa Inggris: scraping,” tutur Hilmar.
Menurutnya, yang membedakan antara Graston dengan Kerokan adalah bahwa penggunaan Graston sudah mengembangkan pengetahuan dengan riset dan teknologi serta diuji secara medis sehingga menjadi bagian dalam sistem kesehatan.

Graston juga tidak hanya bisa digunakan untuk masuk angin, tetapi juga untuk mengatasi cedera otot. “Inilah kekayaan budaya yang dikembangkan dengan ristek. Kita seharusnya juga bergerak ke arah sana,” kata Hilmar.

Ia mengatakan, saat ini Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek tengah bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan yang memiliki Unit Pelaksana Teknis (UPT) bernama Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu di Jawa Tengah. 

Ditjen Kebudayaan juga bekerja sama dengan Pusat Penelitian Biologi yang mendalami etnobiologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan berbagai perguruan tinggi untuk mengumpulkan, merekam, dan mendokumentasi berbagai kekayaan intelektual dari warisan budaya Indonesia.

“Sebagian hasilnya nanti bisa kita lihat lihat dalam Pekan Kebudayaan Nasional di bulan November,” ujar Hilmar.
Ia juga menuturkan, sejarah mengajarkan kepada kita bahwa tatanan hidup dalam kenormalan baru yang lebih tanggap dan tangguh tidak bisa diciptakan hanya dengan hal-hal yang bersifat fisik.

Kenormalan baru memerlukan perubahan yang datang dari diri kita sndiri, salah satunya perubahan dalam cara padang hidup kita, termasuk dalam melakukan riset dan memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan warisan budaya. (sumber: kemdikbudgoid)

Related posts