Mengenal Ilmu Forensik Kebahasaan

LITERASI INDONESIA – Forensik kebahasaan atau linguistik forensik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari dan mengkaji ilmu bahasa dalam ranah hukum.

Cabang linguistik ini mengkaji secara lebih dalam tentang penggunaan bahasa yang digunakan oleh seseorang yang terlibat dalam suatu kasus.

Dikatakan oleh E. Aminudin Aziz, ada sebuah dalil dalam filsafat linguistik, yaitu hakikat makna berada pada minda seorang penutur atau The True Meaning Lies Behind The Speaker’s Mind.

Menurutnya, jika berbicara tentang hakikat berbahasa, maka bagaimanapun bisa dikatakan bahwa berbahasa itu sesungguhnya adalah berwacana.

“Dalam konteks ini yang kita maksud dengan berwacana itu adalah mengonstruksi maksud, jadi kita mencoba mengemas apa yang menjadi gagasan, pemikiran, ide-ide, dan maksud komunikasi kita melalui tuturan,” ujarnya saat memaparkan materi bertajuk “Membedah Wacana untuk Tujuan Forensik”, Senin (26/7).

Ia melanjutkan, ketika seseorang berwacana, maka akan dipengaruhi oleh latar budayanya. Aminudin menjelaskan, terdapat empat jenis konstruksi wacana menurut latar budaya penutur. Pertama, sirkular (memutar).

Para penutur dengan latar budaya ini mereka akan berbicara berputar-putar tanpa mengatakan langsung apa yang sebenarnya menjadi tujuan dari proses komunikasi yang dilakukan. Tetapi bagi mitra tuturnya tidak menjadi permasalahan karena sudah saling memahami.

Pola ini ditemukan dalam wacana orang timur, seperti Jepang, Korea, dan Tiongkok, termasuk kebanyakan orang Indonesia. Kebanyakan di sini mengartikan bisa saja antara Indonesia bagian barat, tengah, dan timur itu berbeda.

Hal ini berbeda dengan negara yang cenderung monokultural seperti halnya Jepang, Korea, dan Tiongkok bisa dideteksi polanya sirkular.

Kedua, linier (segaris). Segaris itu misalnya mengatakan sesuatu A, maka akan didukung dengan berbagai informasi yang akan mendukung informasi A tersebut. Pola ini umumnya diadopsi oleh orang-orang yang berlatar belakang budaya Inggris (anglo).

“Jadi, bisa kita bedakan antara pola sirkular dan linier itu. Pola linier selalu memiliki kalimat utama yang didukung kalimat pendukung dan ujungnya terdapat simpulan, sedangkan yang sirkular itu tidak ada kalimat utama dan simpulan,” jelas Amin.

Related posts