Pengembangan Literasi Butuh Dukungan Stakeholder Pusat dan Daerah

Literasi Indonesia – Tingkat literasi sebuah bangsa memiliki hubungan yang vertikal terhadap kualitas bangsa tersebut.

Literasi yang memiliki kontribusi positif dalam menumbuhkan kreativitas, inovasi, keterampilan dan kecakapan sosial Sumber Daya Manusia (SDM) membutuhkan sinergi serta dukungan dari seluruh stakeholder baik pusat maupun daerah.

Literasi menjadi sangat penting dalam segala aspek. Dalam konteks yang lebih luas, literasi mengerucut pada perbendaharaan gagasan yang membantu seseorang untuk berpikir dan bertindak atas dasar konsep yang matang.

Untuk itu, penguatan budaya literasi harus dibangun secara holistik dan terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Deni Kurniadi mengatakan, permasalahan literasi Indonesia bukan mengenai rendah literasi masyarakatnya, melainkan rendahnya peran sisi hulu.

Lemahnya intervensi peran inilah yang menyebabkan rendahnya literasi masyarakat dan berdampak pada rendahnya daya saing, inovasi, pendapatan per kapita, bahkan indeks kebahagiaan.    

“Melihat fakta lapangan yang terjadi, mau tidak mau pemerintah, penerbit, masyarakat, maupun stakeholder lain harus duduk bersama mengatasi permasalahan tersebut. Dengan demikian, perwujudan SDM Unggul Indonesia Maju bisa terealisasi secepatnya,” ujar Deni.

Ungkapan itu disebutkannya pada kegiatan Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM) bertema “Penguatan Peran Sisi Hulu Budaya Baca Guna Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat” yang diselenggarakan secara hybrid, pada Selasa (22/6/2021) lalu.

Menanggapi pernyataan tersebut Anggota Komisi X DPR RI, Adrianus Asia Sidot menyatakan bahwa Komisi X DPR RI selaku mitra dari Perpusnas sangat mendukung upaya peningkatan literasi. Karena baginya, literasi adalah sebuah program yang sangat penting dan bersifat multi effect.

“Komisi X DPR RI sangat mendukung upaya Perpusnas yang serius dalam meningkatkan literasi masyarakat, karena literasi ini dampaknya luas sekali,” terang Adrianus.

Adapun upaya yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, dikatakan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Leysandri, menjelaskan Indeks Pembangunan Masyarakat (IPM) di daerahnya masih masuk dalam kategori sedang.

Sehingga program “Gemar Belajar” dan pembangunan infrastuktur dalam bidang pendidikan seperti sekolah unggulan digencarkan guna meningkatkan kualitas SDM agar mampu bersaing dalam percaturan global.    

Pada kesempatan yang sama Bupati Sanggau, Paolus Hadi, memberikan apresiasi atas dukungan yang diberikan Perpusnas kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sanggau.

Selain itu, menurutnya, untuk meningkatkan minat baca harus dibuat sebuah sistem yang dapat mengakomodir masyarakat dalam mendapatkan bahan bacaan digital.

“Kita sudah memiliki gedung perpustakaan yang bagus dan terus dibuka meskipun tetap dengan mengikuti protokol kesehatan. Ke depannya, diharapkan pemustaka bisa mengakses bahan bacaan secara online,” ungkap Paolus.

Sementara itu Rektor Universitas Tanjungpura, Garuda Wiko, dan Guru Besar Politeknik Negeri Pontianak, Nurmala, sepakat bahwa industri 4.0 tidak bisa dipungkiri dan perubahan harus bisa dihadapi.

Keberadaan bahan bacaan digital memang sangat membantu, namun bahan bacaan tercetak tetap dibutuhkan pada proses ajar mengajar. Dengan demikian, peran tenaga pendidik sangat berpengaruh dalam mengarahkan mahasiswa untuk membaca.

Kegiatan PILM ini juga dirangkaikan dengan Pengukuhan Bunda Literasi Kabupaten Sanggau dan Penandatanganan Nota Kesepakatan Perpustakaan Nasional RI dengan Pemerintah Kabupaten Sanggau, Universitas Tanjungpura Pontianak, dan Politeknik Negeri Pontianak. (perpusnas)

Related posts