Lukisan Gua Tertua Dunia di Sulawesi Terancam Perubahan Iklim

Literasi Indonesia – Para arkeolog bekerja sama dengan peneliti dari Griffith university Australia menemukan sejumlah lukisan gua atau seni cadas yang diyakini paling awal muncul di dunia. Kini mulai menghilang dengan percepatan waktu yang kian dikhawatirkan akibat perubahan iklim.

Salah satu lukisan cadas gua yang menjadi perhatian dalam penelitian tersebut, merupakan lukisan gua tertua di Indonesia, sekaligus di dunia yang berada di kawasan kars Kabupaten Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.

Lukisan yang ada sejak 45.000 tahun yang lalu ini, diyakini sebagai penggambaran artistik tertua dari adegan berburu dan kehidupan makhluk purba.

Salah satu faktor penyebab risiko yang diduga meningkatkan ancaman hilangnya lukisan goa kars yang berada di Maros-Pangkep ini, akibat perubahan iklim yang ada di wilayah Indonesia bagian timur.

Tim ilmuwan arkeolog dari Australia dan Balai Cagar Budaya Sulawesi Selatan, telah mendokumentasikan mekanisme hilangnya lukisan cadas pada sejumlah dinding goa.

Menurut pakar seni cadas Indonesia, Basrah Busran perubahan iklim yang terjadi dapat membuat produksi garam geologi semakin meningkat dan berisiko meningkatkan pengelupasan pada dinding goa.

“Pengelupasan terjadi akibat adanya aktivitas garam di bawah permukaan kulit batu. Mulai dari peresapan, kapilarisasi, pengendapan dan pelarutan mineral garam alam mendesak kulit batu untuk terkelupas,” jelas Basrah, mahasiswa doktoral arkeolog Griffith University Australia ini, Selasa (22/6).

Hilangnya lukisan tertua di dunia ini kata Basrah terjadi secara alami sejak gambar-gambar tersebut dibuat ribuan tahun lalu. Kendati, kars Maros-Pangkep merupakan salah satu kawasan edukasi arkeologi di Indonesia.

“Namun, kunjungan masyarakat turut mempengaruhi kerusakan gambar cadas tersebut,” katanya.

Sementara, Kepala Unit Balai Pelestarian Cagar Budaya Kars Maros-Pangkep, Rustan Labe mengungkapkan faktor pemicu kerusakan lukisan cadas goa ini terjadi karena peningkatan suhu global.

“Pembukaan lahan dan aktivitas destruktif terhadap lingkungan kars, diduga kuat turut berkontribusi besar atas terjadinya fluktuasi suhu kawasan,” ujar Rustan.

Rustan menuturkan data kerusakan akibat pertumbuhan organisme seperti ganggang lumut, jamur kerak dan sarang serangga juga cukup berperan hilangnya peninggalan lukisan purba tersebut.

“Faktor lainnya yang juga turut berpengaruh terhadap kerusakan lukisan cadas situs Maros-Pangkep ini adalah faktor lingkungan sekitarnya. Sebagian besar gua-guanya berdampingan tempat tinggal warga, hal tersebut mengancam hilangnya lukisan tertua ini,” jelasnya.

Terlebih lagi, terang Rustan di area kawasan ini dijadikan sebagai kandang ternak atau tempat penyimpanan jerami dan termasuk industri seperti tambang semen dan marmer.

“Hal tersebut secara tidak langsung menimbulkan polusi udara yang langsung menempel ke gambar cadas. Begitu juga dengan efek ledakan penambangan yang berubah menjadi polusi untuk lukisan cadas ini,” ungkapnya.

Rustan Labe berharap agar kelestarian peninggalan purba ini, tetap terjaga. Peran serta masyarakat dan pelestari budaya di Indonesia dituntut untuk bersama-sama menjaga keutuhan lukisan tertua di dunia ini. (sumber: cnn/Foto: net)

Related posts