Ketika Guru Masih Gaptek, Program Pemerintah Malah Setinggi Langit

Literasi IndonesiaNge-share video gak penting bisa, tapi nge-share artikel gak bisa. Satu hal lagi yang membuat hati ini teriris sore ini. Bagaimana tidak? Antara pengin ketawa tapi takut dosa, di sisi lain hati ini terenyuh menangis.

Seorang pendidik yang katanya sudah harus menguasai teknologi, dan mendapat pelatihan sana-sini, workshop luar kota meninggalkan keluarga, seminar digital teknologi dan lainnya, ternyata untuk nge-share file yang berisi artikel di sebuah portal aja tidak bisa. Heran kan hari gini?

Kalau begini kenyataannya di kota besar, bagaimana keadaan di kota kecil? Misalnya daerah terpencil dan tertinggal? Daerah yang sama sekali tidak terjangkau internet atau sinyalnya lemot. Duh, tidak bisa komen apa-apa. Hanya bisa menebah dada.

Alokasi pembiayaan peningkatan mutu guru seharusnya menjamah hal-hal sepele seperti itu. Bukan pelatihan Era Literasi Digital yang melayang tinggi, tapi penggunaan handphone sebagai alat atau media pembelajaran saja itu sudah bermakna bagi guru-guru. Jangan terlalu muluk-muluk, yang biasa aja yang keseharian dipergunakan.

Kalau ada ahli IT akan seminar/workshop tentang kemajuan teknologi, kirim aja ahli tersebut ke daerah terpencil dan terpelosok. Biar merasakan bagaimana menjadi naraasumber tanpa jaringan internet.

Yang ada, pasti gak jadi pelatihan tapi ngopi bareng di kedai kopi. Coba bagaimana mau workshop? Peserta tidak punya laptop, kalau punya HP sinyal kadang hilang. Bisa darah tinggi, nih.

Semoga secuil kekesalan hati ini dapat dibaca oleh pihak yang berwenang. Capek-capek kita mencerdaskan guru Indonesia secara mandiri, tapi di sisi lain, dana pengembangan mutu guru tidak menyentuh akar permasalahan.

Akan terbuang percuma dana sebesar itu. Guru tetap tidak dapat ilmu, yang mendapatkan keuntungan hanya segelintir oknum yang menang tender pendidikan, dengan kegiatan tidak tepat sasaran dan hanya legalitas  penggugur kewajiban saja dalam pelaksanaannya. Sungguh memilukan. Salam Literasi. (Ilustrasi foto: google image)

Penulis: Santy Fidrianna (Pimpinan Sekolah Indonesia Menulis)

Related posts