Katanya Era 4.0? Menggunakan Email Aja, No…

Literasi Indonesia – Seiring perkembangan dunia IT yang semakin maju dewasa ini,  dan kebutuhan hidup sudah banyak mengandalkan dunia online untuk transaksi perekonomian, sangat berpengaruh pada kebiasaan dan kultur hidup masyarakat.

Sekarang bayar tagihan HP, air dan listrik, memakai internet banking. Membayar makanan pesan di Go Food, pakai goPay. Belanja online di Shopee, Tokopedia atau Lazada, semuanya transaksi menggunakan non tunai. Seluruh tetek bengek urusan sekarang bayarnya pakai teknologi internet. Memang keuntungannya jauh lebih mudah dan tidak perlu antri berdesakan. Pokoknya ada pulsa, segalanya jadi lancar.

Tak luput pada dunia pendidikan, perkembangan teknologi yang sedemikian cepat dan canggih, harusnya dimiliki pula oleh tenaga pendidik yang menjadi tauladan bagi peserta didiknya.

Pertanyaannya, sudahkah para guru atau tenaga pendidik dibekali dengan pengetahuan tentang masalah IT untuk mentransfer ilmunya kepada peserta didik? Sudah sangat familiarkah mereka dengan penggunaan laptop dan pengoperasian Windows? Sudah akrabkah mereka dengan email atau surat elektronik? Semua piranti itu diperlukan sebagai media pembelajaran kepada peserta didik. Tapi sudahkah pembekalan itu diberikan kepada guru?

Gembar-gembor Era 4.0 sangat menggelegar. Seolah-olah sudah tidak ada lagi masyarakat yang tidak bisa menggunakan gadget yang canggih. Kenyataanya? Miris. Hari ini saya bertemu dengan guru-guru dalam acara workshop karya tulis ilmiah. Di situ saya sediakan form pendaftaran yang isinya antara lain adalah alamat email yang harus diisikan. Dan apa yang terjadi? Separuh dari peserta tidak mengisi alias kosong.

Dengan sigap saya konfirmasikan ke peserta, kemudian mereka menjawab dengan santai tanpa beban. Mereka menjawab lupa, dan tidak sering menggunakan email dalam keseharian. Makjleebbb... Alamakkk. Hari gini mereka malas menggunakan email? Duhhh….tidak bisa komentar.

Padahal setahu saya, email adalah identitas yang sangat penting bagi verifikasi dan konfirmasi data. Terus, seorang pendidik yang nantinya dituntut untuk transfer ilmu pengetahuan lewat teknologi 4.0 tidak punya email atau lupa. Sungguh kenyataan yang menyayat hati. Jargon tidak sesuai dengan kenyataan. Apa yang ada di lapangan sangat berbalik dengan teori yang ketinggian.

Kalau boleh saran atau usul, seharusnya para pendidik atau guru, diberi latihan dasar saja dulu tanpa harus melihat jargon yang ketinggian tentang era 4.0. Ilmu tentang windows basic, kemudian mengoperasikan aplikasi ringan, menggunakan email dalam mengajar sehari-hari.

Itu sepertinya akan lebih bermanfaat daripada hanya sekedar slogan omongan belaka. Yang terpenting itu fakta, bukan berita bohong atau isapan jempol. Salam Literasi. (Ilustrasi: google image)

Penulis: Santy Fidrianna (Pimpinan Sekolah Indonesia Menulis)

Related posts