Kembangkan Perpustakaan, Perpusnas Dorong Pemda Berpacu

Literasi Indonesia – Betapa ruginya sebuah bangsa dengan sumber daya alam melimpah, tapi tingkat literasi rendah. Demikian ditegaskan Kepala Perpustakaan Nasional RI, M. Syarif Bando saat menerima kunjungan kerja sejumlah pemerintah daerah di ruang rapat pimpinan lantai 5 Gedung Fasilitas Layanan Perpustakaan pada Rabu (2/6/2021).

Syarif menjelaskan bahwa literasi merupakan modal masyarakat agar lebih berdaya, di mana pada tingkatan literasi yang keempat, masyarakat dapat menciptakan barang dan jasa. “Cuma satu kata kunci di 2045, siapa menang jadi produsen, siapa kalah jadi konsumen,” ujarnya di hadapan rombongan dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Bone, Kabupaten Luwu Timur, dan Kabupaten Takalar.

Fotografer: Aji Anwar

Sependapat dengan Syarif, Wakil Gubernur NTB, Sitti Rohmi Djalilah, yang hadir didampingi oleh Bupati Lombok Barat dan Wakil Bupati Sumbawa menjelaskan pihaknya memandang literasi merupakan kunci, apalagi keindahan alam NTB yang dianggap bagaikan serpihan surga memiliki potensi dan masa depan yang luar biasa.

“Banyak event besar yang diselenggarakan di NTB. Jadi tantangannya adalah bagaimana literasi masyarakat bisa terdongkrak dengan cepat,” urai Sitti.

Oleh karena itu, Sitti mengharapkan dukungan dari Perpusnas agar perpustakaan di NTB bisa dibangun dengan konsep yang jauh lebih baik. Lebih lanjut, Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid menyatakan kesiapannya untuk melengkapi persyaratan pengajuan pembangunan gedung baru mengingat gedung yang ada sekarang sudah semakin sempit.

Sementara itu, Wakil Bupati Sumbawa Dewi Noviani mengharapkan selain bisa memperoleh bantuan pembangunan gedung pada 2022, ia juga menginginkan bantuan pojok baca digital di desa-desa untuk percepatan peningkatan literasi.

Bupati Batanghari, Muhammad Fadhil Arief, pada kesempatan tersebut menyampaikan terima kasih atas nama pemerintah dan masyarakat Batanghari atas dibangunnya gedung perpustakaan dan berjajnji akan mengoptimalkan pemanfaatannya.

Muhammad Fadhil menjelaskan NTP (Nilai Tukar Petani) masyarakat Batanghari yang turun dan akibatnya sering menyalahkan harga. Padahal harga tidak bisa dikendalikan. Ternyata masalahnya adalah ilmu yang dimiliki petani tidak cukup.

“Karena itu, program kami bagaimana petani dapat berdaya, bagaimana petani punya kemampuan,” urainya.

Selain itu, Fadhiel juga mengundang Kepala Perpusnas untuk meresmikan gedung perpustakaan yang kini tengah berlangsung proses pembangunannya dan mengharapkan ada keberlanjutan dari bantuan tersebut.

Related posts