Tradisi Pacu Jawi di Ranah Minang, Makna dan Nilai yang Terkandung

Literasi Indonesia – Sebagian masyarakat mungkin mengenal tradisi karapan sapi khas Madura, Jawa Timur. Tapi ternyata adapula balapan sapi di Sumatera Barat.

Bahkan tradisi turun temurun di Tanah Minangkabau ini ternyata sudah mendunia alias go internasional. Pacu Jawi namanya.

Joki mengigit ekor Jawi agar berlari kencang pada ajang Pacu Jawi di Tanah Datar, Sumatera Barat, Sabtu (13/8/2016). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Mengutip laman tanahdatar.go.id, Rabu (2/6), pacu Jawi merupakan alek anak nagari Kabupaten Tanah Datar yang dilaksanakan setiap usai panen padi.

“Namun saat ini, pacu jawi tidak lagi sekedar tradisi, melainkan telah menjadi tujuan wisatawan dari mancanegara. Ini ditunggu turis asing,” mengutip penjelasan situs tersebut.

Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas panen yang diberikan sekaligus hiburan bagi masyarakat.

Perlu sepasang sapi dan seorang joki untuk memacunya. Uniknya, joki sampai harus menggigit ekor sapi-sapinya supaya mau berjalan. Jika menang, membuat nilai harga sapi saat dijual semakin mahal.

Bagi masyarakat di Kabupaten Datar, pacu jawi punya memiliki banyak makna. Salah satunya mengingatkan masyarakat untuk berjalan lurus dan mampu bekerja sama dengan baik tanpa bersinggungan.

Nilai luhur disebutkan juga terkandung di dalam tradisi ini. Selain meningkatkan silaturahim, pacu jawi juga mengenalkan adat dan budaya.

Manfaat lain ternyata pacu jawi meningkatkan harga sapi, sehingga bisa menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya. (ist)

Related posts