Literasi Menulis Bukan Euforia; Hentikan Tulisan Picisan Tanpa Makna

Literasi Indonesia – Budaya literasi menulis kian pesat berkembang di tanah air. Banyak lembaga dan isntitusi yang bergerak secara intens dalam bidang pengembangan literasi.

Kalangan pendidik, pelajarm mahasiswa, dan masyarakat umum pun mulai menggeliat dengan lahirnya karya-karya hebat.

Namun begitu, pola pengembangan literasi menulis seakan kebablasan dengan banyaknya karya tulis picisan yang beredar. Hal itu bisa dilihat di media sosial dengan banyak grup-grup yang dibuat untuk menuangkan hasil tulisan dari perorangan maupun kelompok.

“Bisa kita saksikan, di media sosial sangat banyak. Bahkan ada pula guru-guru di antaranya. Menulis cerpen, cerbung, novel, dan kisah-kisah yang sebenarnya belum pantas dipublikasi,” demikian sebut Nova Indra, pimpinan lembaga Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (P3SDM) Melati yang menaungi Sekolah Indonesia Menulis, Rabu (2/6).

“Bahkan ada yang mempublikasi karyanya berupa cerpen yang belum diedit tata bahasanya, belum diedit tanda bacanya. Ini jelas bukan tujuan dari Gerakan Literasi Nasional (GLN) itu sendiri.

Jangan sampai, lanjutnya, tokoh-tokoh seperti guru menulis acak-acakan lalu sudah diposting dan dilihat oleh para muridnya. “Tentu ini malah berdampak luas pada kredibiltas yang bersangkutan. Akan mudah dibully oleh semua orang,” sambungnya.

Menurut pria yang sehari-hari mengelola media, penulis, sekaligus pembimbing guru-guru dalam menulis itu, hendaknya karya-karya yang dipublikasi di media sosial adalah karya yang sudah lulus proses editing. “Agart yang membaca juga merasa terpacu untuk menjadi lebih baik,” katanya.

Lagian, tambahnya, kalau guru-guru tersu menulis hal-hal yang kurang bermakna, ketika akan naik pangkat, bukan karya tulis seperti itu yang bermanfaat. “Tapi karya tulis ilmiah, berupa PTK-PTS, Best Practice, Buku Pengayaan, Buku Literatur Pendidikan, dan lainnya,” imbuhnya.

Kalaupun karya-karya berupa cerpen, novel, dan sejenisnya yang tidak ada titik singgung dengan dunia pendidikan dan profesi, jelas saja akan sangat kurang manfaatnya bagi yang bersangkutan.

“Karena itu, kita lebih setuju bila kawan-kawan guru lebih mengutamakan menghasilkan karya yang bermakna seperti best practice, buku pelajaran/pengayaan, dan hgasil penelitian tindakan,” pungkasnya. (d’)

Related posts