Target Budaya Literasi Indonesia Capai 71,04 Persen di Tahun 2024

Literasi Indonesia – Pemerintah menargetkan baseline budaya literasi Indonesia mencapai 71,04 persen pada 2024.

Asisten Deputi Literasi, Inovasi, Kreativitas Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Jazziray Hartoyo mengatakan, hal tersebut dapat tercapai melalui penyusunan peta jalan peningkatan budaya literasi yang tengah dilakukan.

Ilustrasi membaca. (freepik)

“Pada prinsipnya peta jalan ini adalah dokumen yang harus kita sepakati bersama. Diharapkan pada 2024 nanti, baseline budaya literasi kita sudah mencapai target 71,04, peningkatan ranking posisi Indonesia dalam indikator global, serta terbangunnya sinergitas lintas kementerian/lenbaga,” kata Jazziray dikutip dari situs Kemenko PMK, Jumat lalu.

Saat ini, kata dia, skema sinergitas kementerian/lembaga di dalam peta jalan budaya literasi sudah dibuat. Dalam penyusunannya, tidak hanya melibatkan unsur pemerintah baik pusat maupun daerah, tetapi juga kalangan akademisi, komunitas, dan stakeholder terkait.

“Peta jalan peningkatan budaya literasi fokus pada Gerakan Literasi Nasional. Di dalamnya termasuk Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Masyarakat, dan Gerakan Literasi Lingkungan,” katanya.

Adapun beberapa hal yang menjadi titik penekanan peningkatan budaya literasi antara lain dasar hukum kebijakan, masalah ketersediaan koleksi buku, hingga jumlah perpustakaan maupun pustakawan.

A young Asian boy is indoors in his elementary school library. He is reading a storybook while sitting on a stack of books. (savvytokyo.com)

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) E Aminudin Azis mengatakan, ketersediaan buku menjadi salah satu penghambat budaya literasi di Indonesia.

Pasalnya, lanjut Aminudin, standar buku yang ada di Indonesia masih belum sesuai dengan standar UNESCO.

“Minimal tiga buku baru setahun untuk satu anak. Walaupun buku itu isinya juga harus sesuai yang diminati anak,” ujarnya. Namun kecenderungannya, saat ini justru buku yang diberikan kepada anak adalah buku yang menurut orangtuanya bagus. Padahal, belum tentu anak menyukai buku yang direkomendasikan orangtuanya tersebut. “Buku-buku nonteks pun di sini belum jadi prioritas,” pungkasnya. (kompascom)

Related posts