Mengintip Uniknya Danau Asin Satonda

Literasi Indonesia – Ada  tempat nan elok dan indah tersembunyi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Namanya Pulau Satonda.

Letaknya di lepas pantai utara Pulau Sumbawa dan masuk dalam wilayah Kabupaten Dompu. Sekitar tiga kilometer dari Selat Sanggar di Laut Flores. Secara administratif berada di wilayah Desa Nangamiro di Kecamatan Pekat.

Pulau Satonda dan perairan sekitarnya memiliki luas 2.600 hektare (ha). Terdiri dari 453,7 ha berupa daratan dan 2.146,3 ha lainnya adalah perairan. Pulau Satonda terbentuk dari letusan Gunung Satonda, belasan ribu tahun silam.

Suasana matahari terbit di atas Danau Satonda. Foto: Istimewa

Gunung berapi Satonda disebutkan sebagai gunung api purba. Konon berusia lebih tua daripada Gunung Tambora, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari pulau ini.

Pulau ini menarik perhatian para ilmuwan dan peneliti baik dari dalam maupun luar negeri, karena terkait dengan letusan fenomenal Gunung Tambora pada 15 April 1815 atau sebelum meletusnya Gunung Krakatau pada 1883.

Letusan Gunung Tambora mengguncang beberapa bagian dunia, memuntahkan debu, dan mencemari atmosfer bumi selama bertahun-tahun. Bahkan merobek lapisan ozon yang tipis.

Pulau Satonda memiliki danau tepat di tengah-tengah pulau. Luasnya 335 ha dengan kedalaman mencapai 86 meter. Berdasarkan hikayat yang berkembang, disebutkan bahwa danau di tengah pulau itu adalah air mata penyesalan dari Raja Tambora.

Dikisahkan, Raja murka karena pinangannya kepada seorang perempuan ditolak mentah-mentah. Raja tak tahu bahwa perempuan yang ingin diperistrinya itu adalah ibu kandungnya sendiri, lantaran ketika kecil si raja pernah hilang. Murkanya raja kepada perempuan yang belakangan adalah ibunya sampai-sampai membuat Sang Kuasa berang. Ia membuat Gunung Tambora meletus dan menimbulkan tsunami raksasa serta memisahkan daratan menjadi pulau-pulau kecil, salah satunya Satonda. 

Kadar Asin Tinggi

Stephan Kempe dari Jerman dan Josef Kazmierczak asal Polandia yang merupakan profesor biologi Eropa sengaja menyinggahi Satonda untuk meneliti danau tersebut pada November 1984. Ketika itu tengah digelar Dutch Indonesian Snellius II Expedition. Penelitian keduanya berlanjut pada 1989 dan 1996.

Related posts