Cagar Buah Condet, Upaya Menjaga Identitas Asli Betawi

Literasi Indonesia – Bagi sebagian warga Jakarta, barangkali banyak yang belum mengetahui tentang keberadaan perkebunan buah yang terletak di kawasan Condet, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. 

Lokasinya yang berada tepat di tengah-tengah pemukiman padat penduduk menjadikan kebun buah ini tertutup dan tak tampak dari ruas jalan raya. Disebut sebagai Cagar Buah Condet, area seluas 3,7 hektar ini merupakan sisa lahan perkebunan milik warga asli Condet yang akhirnya diserahkan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk dijadikan kawasan pelestarian tanaman buah khas Betawi, yaitu salak condet dan duku condet.

Bibit pohon salak dan duku condet. Sumber foto: K/Intan Deviana Safitri

Menurut Mpok Menah (85), salah satu warga asli Condet, kawasan yang mencakup Kelurahan Balekambang, Batu Ampar, dan Kampung Tengah ini dulunya merupakan area perkebunan buah salak, duku, dan beragam jenis tanaman lain yang sangat luas dan rindang milik puluhan penduduk asli Condet yang bersuku Betawi.

Sedangkan menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Antropologi Fakultas Sastra (sekarang bernama Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia tahun 1980, kawasan Condet merupakan daerah pemukiman masyarakat petani sawah dan petani buah jauh sebelum abad ke 17.

Namun ketika kekuasaan Belanda mulai memasuki wilayah Condet pada abad 17, daerah tersebut berturut-turut mulai diakui sebagai tanah milik tuan tanah bangsa Belanda D.W. Freyer dan keturunan keluarga Ament.

Selama dalam kekuasaan Belanda, mereka membuat kebijakan tentang penetapan pajak tak wajar kepada semua rakyat yang dibayarkan setiap minggu. Jika rakyat tidak membayar pajak, rakyat akan diganjar dengan hukuman kerja paksa dan harta benda mereka akan dirampas.

Pasca Indonesia telah merdeka, di tahun 1970-an, total area perkebunan di kawasan Condet masih berada di angka lebih dari 300 hektar. Mayoritas penduduknya masih menggantungkan hidup dengan berjualan hasil panen salak dan duku yang dijual langsung ke Pasar Minggu.

Di kelurahan Balekambang sendiri pada tahun 1977, tercatat jumlah pohon salak mencapai angka 1.656.600 rumpun dan 2.383 pohon duku. Dari jumlah tersebut, hasil panen per tahun bisa mencapai angka 285,7 ton buah salak dan 44 ton buah duku.

Sayangnya, sejak dibukanya jalan raya Condet yang menjadi jalan utama beraspal, arus urbanisasi kian deras terjadi di wilayah Condet. Keadaan ini memicu aktivitas jual beli tanah perkebunan yang disebabkan oleh makin tingginya harga tanah pada saat itu.

Warga asli Condet yang memiliki tanah mulai tergoda untuk menjual tanahnya pada orang luar demi memenuhi kebutuhan hidup, untuk ongkos naik haji, dan memilih untuk membeli tanah di luar Jakarta yang harganya lebih murah. Oleh pembeli lahan, tanah perkebunan tersebut dialihfungsikan menjadi bangunan rumah atau kontrakan permanen maupun semi permanen.

Pada tahun 1974, saat Ali Sadikin menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, sebetulnya kawasan Condet sempat ditetapkan sebagai cagar buah-buahan dan cagar budaya Betawi melalui SK Gubernur No D.IV-1V-115/e/3/1974. Namun, hal tersebut tak berlangsung lama.

Seiring pergantian gubernur dan perubahan-perubahan kebijakan, Condet kian terlupakan. Hingga akhirnya pada tahun 2004 terbit SK Gubernur yang memerintahkan agar cagar budaya Betawi dipindahkan ke Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Dengan maraknya penjualan tanah kebun milik warga dan pemindahan kawasan cagar budaya Betawi ke Setu Babakan, masyarakat Condet pun akhirnya menerima penawaran Pemprov DKI Jakarta untuk membeli sisa lahan perkebunan warga seharga nilai jual obyek pajak ketika itu.

Hal tersebut dengan pertimbangan agar identitas asli suku Betawi yang semakin lama semakin berkurang dan terancam hilang di wilayah Condet, bisa tetap dipertahankan agar masih bisa dinikmati oleh generasi penerus di masa mendatang.

Tepat di tahun 2007, setelah pemerintah mengambil alih kepemilikan kebun, pembebasan lahan perkebunan pun dilakukan dan mulai dibangun pagar besi setinggi dua meter mengelilingi area kebun. Kebun buah inilah yang kini disebut sebagai Cagar Buah Condet, yang lokasinya berada di bantaran sungai Ciliwung, tepatnya di Jalan Kayu Manis RT 07 RW 05 Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.

Keberadaan kebun buah Condet yang kini tersisa hanya seluas 3,7 hektar dari luas awal mencapai lebih dari 300 hektar, menjadi sebuah harapan ibukota Jakarta yang telah penuh sesak dengan hutan beton dan tanah beraspal akan adanya kawasan hijau yang sesungguhnya. (indonesiagoid)

Related posts