Mengenal Lontara, Aksara Mendunia dari Bugis

Literasi Indonesia – Nusantara kita memiliki budaya dan adat istiadat yang sangat kaya dan beragam.

Dalam catatan Badan Pusat Statistik dari hasil Sensus Penduduk 2010 saja disebutkan terdapat 1.340 kelompok suku di Indonesia. Salah satunya adalah masyarakat suku Bugis yang mendiami sejumlah wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Mereka umumnya menempati daerah-daerah di Kabupaten Luwu, Wajo, Soppeng, Bone, Sidenreng Rappang, Pinrang, dan Barru.

Bugis berasal dari kata to ugi yang berarti orang Bugis. Penamaan ugi merujuk pada raja pertama kerajaan Tiongkok di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai to ugi atau para pengikut dari La Sattumpugi.

La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah dari Sawerigading. La Sattumpugi dan Batara Lattu pun sepakat menjodohkan anak-anak mereka. Dari pasangan Sawerigading-We Cudai lahir beberapa keturunan, salah satunya adalah La Galigo.

Ia kemudian dikenal sebagai sastrawan Bugis dengan karya sastra fenomenal I La Galigo, sebuah epos mengenai mitologi Bugis yang ditulis di atas daun lontar dalam aksara Lontara pada abad 15.

Jika dituliskan kembali dalam bentuk buku, maka kira-kira akan menghasilkan 9.000 halaman folio dan menjadi epos terbesar di dunia bersama kisah Mahabharata dan Ramayana dari India. Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, UNESCO telah memasukkan I La Galigo sebagai Memory of The World pada 2012.  

Aksara Lontara atau dikenal juga sebagai Lontaraq yang mewarnai karya I La Galigo merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan suku Bugis. Lontara sendiri berasal dari kata ‘lontar’ yang merupakan spesies flora endemik di Sulsel dan menjadi aksara tradisional masyarakat Bugis dan Makassar.

Related posts