Maksimalisasi Internet Ciptakan Ruang Kreatif dan Produktivitas

Literasi Indonesia – Pandemi Covid-19 “memaksa” pertumbuhan jasa internet atau teknologi digital semakin pesat dari tahun sebelumnya. Peluang tersebut harus dimanfaatkan oleh masyarakat pengguna informasi teknologi di Indonesia untuk mendorong kegiatan-kegiatan kreatif dan produktif di ruang digital.

Sebelum pandemi melanda tanah air, jumlah pengguna internet di Indonesia setiap tahunnya terus meningkat secara signifikan. Indonesia masuk sebagai peringkat keempat pemakai internet terbesar di dunia. Tercatat sampai 2020, jumlah total pengguna internet di tanah air telah mencapai 196,7 juta orang. Dipastikan pada 2022 menembus 200 juta.

Di masa pandemi akibat kebijakan belajar dan bekerja dari rumah membuat lonjakan penggunaan platform digital sampai 433 persen. Termasuk lompatan pemanfaatan transaksi keuangan digital.

Warga berbelanja menggunakan aplikasi jual-beli digital di Bandung, Jawa Barat, Rabu (10/2/2021). ANTARA FOTO/Novian Arbi

Merujuk pada laporan e-Conomy SEA 2020 yang diterbitkan Google, Temasek, dan Bain & Company, awal November 2020, nilai ekonomi berbasis internet negara-negara di Asia Tenggara mencapai USD105 miliar atau sekira Rp1.470 triliun (kurs rupiah per dolar Rp14.000) pada 2020.

Sebanyak USD44 miliar atau Rp616 triliun di antaranya disumbang Indonesia. Adapun nilai ekonomi digital di Indonesia diperkirakan tumbuh 11 persen dibandingkan tahun lalu, sementara Vietnam 16 persen.

Proyeksi nilai ekonomi tersebut berdasarkan transaksi bruto (gross merchandise value/GMV) lima sektor, yakni e-commerce, berbagi tumpangan (ride-hailing), dan pesan-antar makanan, media digital, online travel, serta finansial.

Peningkatan jumlah transaksi lewat e-commerce tidak terlepas dari kebijakan pemerintah dalam mendorong akseptasi digital kepada masyarakat, serta terus mengakselerasi perkembangan fintech dan digital banking.

Kementerian Kominfo juga mendukung dengan kegiatan literasi digital, maupun terus memperkuat infrastruktur digital hingga ke pelosok wilayah terpencil maupun terluar.

Dari catatan Bank Indonesia (BI), tidak hanya bisnis berbasis e-commerce yang meningkat. Penggunaan uang elektronik terjadi peningkatan penggunaan sebesar 32,3 persen atau setara Rp266 triliun pada tahun ini. Pada 2020, estimasi bank sentral itu menyebutkan penggunaan uang elektronik mencapai Rp201 triliun.

Data-data tersebut menunjukkan, Indonesia bukan saja sebagai pasar dari pemain digital, melainkan juga harus meningkatkan potensi sosial ekonominya.

Penggunaan ruang digital dalam kegiatan produktif saat ini sudah dilakukan di kota-kota besar di tanah air seperti DKI Jakarta, Surabaya, dan Medan. Penduduk di kota tersebut memilih ruang digital dalam melakukan kegiatan dagang maupun jasa lainnya ketika wabah corona merebak setahun lalu hingga sekarang.

Contoh, produksi kopi Aceh Gayo bisa dikemas secara kekinian dan diramu dengan kualitas tinggi sehingga mampu menembus pasar negeri jiran, Singapura, Brunei, dan Malaysia atau bahkan dijual hingga ke Eropa dan Amerika Serikat. Peluang ini yang harus digarap benar. Mengisi platform e-commerce dengan produk dan layanan buatan dalam negeri.

Ini membuat transaksi digital melonjak. Peningkatan pesat ini terlihat pada konsumsi makanan-minuman, produk kesehatan, elektronik, maupun transaksi keuangan online.

Satu hal, kegiatan produktif yang dilakukan melalui ruang digital oleh sebagian besar masyarakat Indonesia akan membuat dampak positif bagi perekonomian bangsa. Dengan begitu, pemulihan perekonomian dalam negeri dapat diraih dalam waktu yang relatif lebih cepat.

BI pun sudah menyatakan optimistis tahun 2021 ini adalah tahun dari pemulihan ekonomi nasional. Ekonomi digital adalah salah satu kunci untuk mendorong pemulihan tersebut, selain pengendalian kasus kesehatannya. (indonesiagoid)

Related posts