Nilai Luhur di Negeri Wolio, Kesultanan Islam di Masa Silam

Literasi Indonesia — Buton adalah kabupaten yang terletak di sebelah tenggara Provinsi Sulawesi Tenggara. Kabupaten ini berbentuk kepulauan, itulah kenapa lebih dikenal dengan Kepulauan Buton. Di masa silam pulau ini lebih dikenal sebagai sebuah kerajaan.

Sebagai sebuah kerajaan, Buton pertama kali dipimpin oleh seorang wanita bernama Wakaaka. Setelah mangkat Wakaaka kemudian digantikan putrinya, Bula Wambona. Berturut-turut kemudian Buton dipimpin oleh Raja Batara Guru, Raja Tuarade dan Raja Mulae.

Setelah Mulae mangkat, tumpuk pimpinan negeri ini dipercayakan ke menantu Raja Mulae bernama Murhum. Di masa kepemimpinan Raja Murhumlah Buton meraih kejayaan sebagai sebuah kerajaan selama 20 tahun.   

Masyarakat Buton ketika menggelar Festival Budaya Buton. Foto: ANTARA FOTO/Jojon.

Masuknya Islam kemudian makin membesarkan kerajaan ini yang kemudian Buton oleh Raja Murhum diubah menjadi Kesultanan, dan menjadi salah satu kesultanan Islam besar di nusantara, juga di masa kepemimpinan Sultan Murhum. Hingga kini struktur kesultanan dan adatnya masih bertahan. Miana Wolio, begitu sebutan bagi masyarakat yang bahasa utamanya pun menggunakan nama yang sama, bahasa Wolio.

Sebelum menjadi sebuah kerajaan dan kemudian kesultanan, pada tahun 1365 M, negeri ini telah dicatat oleh Mpu Prapanca dalam bukunya Negara Kertagama dengan sebutan Butuni. Dalam naskah kuno itu, Butuni disebutkan adalah sebuah desa tempat tinggal para Resi lengkap dengan taman yang indah, lingga, dan saluran air.

Resi adalah seorang suci atau penyair dengan kesaktian mumpuni. Karena kesaktian para Resi-nya inilah konon yang menjadikan kerajaan ini walaupun kecil namun begitu ditakuti zaman dahulu.

Kerajaan Buton juga disebutkan oleh Patih Gajah Mada dalam sumpah Palapa-nya. Ini juga yang menjadikan kerajaan Buton dan kerajaan Majapahit memiliki hubungan yang kuat. Dalam surat-menyuratnya dengan kerajaan Majapahit, Kerajaan Buton menyebut dirinya Butuni. Sementara dalam arsip Belanda, negeri ini juga telah tercatat dengan nama Butong atau Bouthong.

Ketika Islam masuk, ada juga yang mengaitkan nama Buton dengan bahasa Arab yaitu bathni atau bathin, yang berarti perut atau kandungan. Filosofi ini kaitannya bisa disaksikan pada sebuah lubang yang terletak di dalam masjid Agung Keraton Buton. Mesjid tua yang masih aktif digunakan masyarakat Wolio dan berdiri kokoh di lingkungan Keraton Buton.

Di dalam masjid yang jadi salah satu ikon negeri ini, terdapat lubang yang oleh masyarakat di sebut pusat bumi. Konon ujung lain dari lubang tersebut berada di negeri Arab.

Related posts