Menyimak Senandung Merdu Dawai dari Pulau Rote

Literasi Indonesia —Menceritakan ragam budaya Indonesia tidak akan pernah ada habisnya. Dimulai dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas hingga ke Pulau Rote, sepanjang itu pula kekayaan budaya Nusantara mengalir tak ada hentinya.

Pulau Rote, misalnya, kita tak hanya mengenal tempat ini sebagai awal lahirnya topi ti’i langga. Sejenis tutup kepala bertepi lebar beranyaman daun lontar dengan cula atau antena di bagian depannya dan menjadi kebanggaan kaum adam paling autentik dari pulau ini.

Tetapi di pulau ini pula, sejak abad tujuh, masyarakatnya telah terbiasa dengan sejenis alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara dipetik, mirip sekali dengan gitar atau harpa. Ketika jari jemari memetikkan dawai-dawai berkawat halus justru mampu melepaskan senandung nada-nada merdu. Mirip gabungan dari suara gitar, harpa, biola, atau bahkan piano, luar biasa.

Alat musik itu adalah sasando atau biasa disebut sebagai sasandu oleh masyarakat di pulau seluas 97.854 hektare. Pulau paling selatan dari Indonesia tersebut masuk gugus Kepulauan Rote, bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Alat musik sasando dimainkan oleh Jeremiah August Pah seniman musik di Rote, Nusa Tenggara Timur. WIKI COMMON/ Fakhri Anindita

Sasando adalah satu dari sedikit sekali alat musik petik berdawai tradisional asli Indonesia selain kecapi dari tanah Pasundan serta sape’ milik suku Dayak. Alat itu mampu menghasilkan beragam jenis nada yang khas.

Sasando atau sanu memiliki arti bunyi-bunyian yang bergetar. Ada beberapa versi cerita bagaimana asal mula diciptakannya alat musik kebanggaan masyarakat Rote ini.

Cerita yang banyak berkembang di masyarakat adalah kisah seorang pemuda bernama Sangguana saat terdampar di Pulau Ndana dan ditemukan penduduk sekitar untuk kemudian dibawa ke hadapan Raja Takalaa sebagai penguasa pulau.

Sangguana rupanya jatuh hati kepada putri raja. Namun raja tidak mau begitu saja merelakan buah hatinya dipersunting orang lain. Agar bisa menjadi menantunya, Raja Takalaa memberi satu tantangan kepada Sangguana yaitu menciptakan sebuah alat musik yang berbeda dari yang sudah ada.

Sambil memikirkan tantangan calon mertuanya, Sangguana rupanya tertidur dan dalam lelapnya ia bermimpi memainkan alat musik indah dengan suara merdu. Hal yang rupanya mengilhami Sangguana untuk menciptakan sasandu, nama yang ia sematkan untuk alat musik ciptaannya. 

Sasandu itu pun ia pamerkan dan perdengarkan di hadapan raja sekaligus ia persembahkan bagi pujaan hati. Putri raja saat menerima sasandu menyebutnya sebagai hitu atau tujuh karena jumlah dawainya. Raja pun senang dengan alat musik tadi dan mengizinkan putrinya dipersunting oleh Sangguana.

Di kemudian hari, hitu ini dikenal juga sebagai sasando gong tak hanya berdawai tujuh, namun berkembang 11 dawai dan hanya dimainkan secara terbatas. Nada pentatoniknya bagi masyarakat Rote mampu mengiringi tarian saat pesta atau menghibur keluarga yang sedang dirundung duka.

Related posts