Saksikan, Fenomena Gerhana Bulan Total ‘Super Blood Moon’ di Langit Indonesia

Literasi Indonesia – Di bulan ini, tepatnya 26 Mei nanti, akan terjadi suatu femomena Langit yang cukup menarik untuk diamati.

Fenomena itu adalah Gerhana Bulan Total (GBT) yang dikenal dengan sebutan Super Blood Moon. GBTakan muncul di langit Indonesia dan fenomena ini menjadi cukup spesial karena bertepatan dengan Hari Raya Waisak tahun 2565.

Fenomena puncak gerhana  ini akan dapat diamati langsung tanpa memerlukan alat bantu optik pada jam 18.46 WIB di wilayah Barat Indonesia, pukul 19.46 WITA di wilayah Tengah Indonesia, dan jam 20.46 WIT di wilayah Timur. Dengan durasi puncak gerhana selama 14 menit 30 detik.

Proses GBT dimulai dengan gerhana penumbra yang dimulai pada pukul 15:46:37 WIB dan kontak terakhir penumbra yang mengakhiri seluruh proses gerhana pada pukul 20:51:16 WIB atau selama 3 jam 7 menit sudah termasuk gerhana pasial dan gerhana total.

Adapun fase-fasenya adalah berikut, yaitu dimulai pada pukul 15.46 wib disebut sebagai fase awal penumbra, jam 16.44 wib sebagai fase awal sebagian. Jam 18.09 sebagai fase awal total. Jam 18.14 wib sebagai fase Puncak gerhana. Jam 18.27 wib sebagai fase akhir total. Jam 19.52 wib sebagai fase akhir sebagian dan terkahir jam 20.51 wib sebagai fase akhir penumbra.

Fenomena Blood Moon ini hanya terjadi saat fase bulan penuh dan mengalami Gerhana Bulan Total (GBT). Di mana Bumi bergerak di antara Bulan dan Matahari dan berada pada posisi garis lurus. Dan pada saat bumi bergerak maka bulan akan tertelan bayangan bumi.

Bulan akan tampak merah karena pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi, Fenomena Super Blood Moon ini adalah akibat dari Gelombang cahaya panjang yang datang dari  Bumi inilah yang membuat bulan tampak merah. Ia akan semakin merah jika polusi udara, tutupan awan atau ketebalan partikel di atmosfer Bumi yang ditembus cahaya itu semakin besar.

Fenomena pertama adalah Supermoon. Disebut demikian, karena Bulan masih berada di titik terdekatnya dengan Bumi (perigee). Dengan begitu, Bulan akan terlihat lebih besar dan bercahaya dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.

Disebut Blood Moon, sebab saat Gerhana Total, Bulan tampak berwarna merah darah karena cahayanya ditapis sedemikian rupa oleh atmosfer Bumi. Dengan kecerlangan berkisar 15.6 % lebih terang dibandingkan dengan rata-rata atau 29.1% lebih terang apada saat bulan berada di titik terjauhnya (Apogee). (ist/bmkg)

Related posts