Refleksikan Tiga Agenda Kontekstual Kebangkitan Bangsa

Literasi Indonesia – Melalui momentum bersejarah Hari Kebangkitan Nasional, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate mengajak seluruh masyarakat Indonesia dan sivitas Kementerian Kominfo, merefleksikan tiga hal penting yang menjadi dasar kebangkitan nasional bagi bangsa Indonesia.

Menurutnya, tiga hal yang diretas perhimpunan Budi Utomo pada 113 tahun lalu meliputi: cita-cita untuk memerdekakan cita-cita kemanusiaan, memajukan nusa dan bangsa, serta mewujudkan kehidupan bangsa yang terhormat dan bermartabat di mata dunia.

“Tiga hal di atas merupakan substansi makna kebangkitan nasional yang harus terus dipertahankan dan diaktualisasikan lintas generasi, senantiasa diterapkan dalam kerangka dinamis sesuai konteks zamannya,” jelasnya.

Johnny mengingatkan ketika era pra kemerdekaan kebangkitan nasional mampu menjadi ruh gerakan perlawanan terhadap hegemoni penjajah. Sedangkan pascakemerdekaan kebangkitan nasional menjadi inspirasi pelaksanaan pembangunan bangsa.

Dan pada era reformasi membawa Indonesia menuju pengelolaan negara yang lebih terbuka dan lebih demokratis. 

“Dalam konteks ini, makna kebangkitan nasional seyogyanya diarahkan menjadi faktor pemandu untuk mengembangkan demokratisasi di segala bidang, mewujudkan keadilan penegakan hukum, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Inilah agenda kontekstual yang sejatinya lebih dari cukup untuk mengantarkan bangsa Indonesia ke cita-cita ketiga yang diretas Budi Utomo, berbuat sesuai dinamika kehidupan bangsa saat ini,” ungkapnya retoris.

Johnny mengisahkan, pada Mei 20 Mei 1948, Presiden Soekarno menjadikan hari lahirnya organisasi Budi Utomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Pilihan itu bukan tanpa sebab, menurutnya ketika itu terdapat ancaman perpecahan antar golongan dan ideologi.

Selain itu, Indonesia dalam masa revolusi mempertahankan diri dari Belanda yang ingin kembali berkuasa di Indonesia. 

“Dengan harapan, golongan yang saling bertengkar dan rakyat Indonesia melalui momen ini dapat mengumpulkan kekuatan bersatu melawan penjajah, melawan Belanda. Presiden Soekarno berharap penetapan Hari Kebangkitan Nasional bisa mencegah perpecahan saudara-saudara sebangsa dan setanah air,” paparnya.

Namun demikian, Johnny menegaskan peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini bukan sekadar menjadi ritual untuk mengenang kejayaan sejarah masa lalu.

“Soliditas persatuan era Budi Utomo yang terbentuk dengan semangat Dokter Sutomo dan kawan-kawan itu perlu diwujudkan dalam praktik berbangsa dan bernegara yang lebih operasional,” ujarnya.

Upacara yang berlangsung dengan menerapkan physical distancing itu dihadiri oleh pejabat pimpinan tinggi madya (eselon I) dan pimpinan tinggi pratama (eselon II) di lingkungan Kementerian Kominfo.

Sementara, sebagian sivitas Kementerian Kominfo ada yang mengikuti upacara secara langsung di tempat, adapula yang menyaksikan melalui konferensi video dari rumah masing-masing. Prosesi upacara juga disiarkan langsung kanal YouTube Kemkominfo TV. (SP)

Related posts