Jejak Perkembangan Islam di Batavia

Literasi Indonesia – Jakarta memiliki banyak bangunan bersejarah peninggalan masa lalu yang sudah berusia ratusan tahun dan masih terpelihara dengan baik.

Salah satunya adalah Masjid Keramat Luar Batang yang berada tak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara. Masjid Luar Batang, begitu rumah ibadah ini dikenal oleh masyarakat, berlokasi di kawasan permukiman padat penduduk Jl Luar Batang, Gang V Nomor 1, Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan. 

Cukup dengan menumpang moda transportasi umum Transjakarta rute Koridor 1A Pantai Indah Kapuk-Balai Kota, kita akan langsung turun di Halte Masjid Luar Batang. Atau bisa juga menumpang Transjakarta Koridor 1 rute Blok M-Kota dan turun di Halte Kota.

Dari halte, kita dapat menumpang ojek beberapa menit menuju masjid sarat sejarah ini dan telah menjadi benda cagar budaya DKI Jakarta berdasarkan Peraturan Daerah nomor 9 tahun 1999.

Seperti dikutip dari laman situs www.jakarta-tourism.go.id, masjid ini dibangun oleh seorang ulama asal Hadramaut, Yaman, bernama Al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus. Ia tiba di Batavia melalui Pelabuhan Sunda Kelapa pada 1736.

Bersama asistennya yang keturunan Tionghoa, yaitu Habib Abdul Kadir, Habib Husein berdakwah sambil mengajar mengaji di pesisir utara Batavia. Seperti umumnya ulama-ulama saat itu, Habib Husein pun menentang kehadiran Belanda di tanah Batavia. Ia bahkan sempat merasakan dinginnya sel penjara karena sikapnya itu.

Tiga tahun kemudian atau pada 1739 ia dengan dibantu masyarakat Sunda Kelapa mulai membangun sebuah langgar atau surau memanfaatkan rumah seorang warga di Kampung Baru. Bangunan langgar atau musala bergaya khas Betawi seluas 6 meter persegi (m2) itu diselesaikan pada 20 Muharram 1152 Hijriah atau 29 April 1739.

Habib Husein menamainya Langgar Annur. Kelak langgar ini diperbesar menjadi sebuah masjid seperti sekarang setelah mendapat hibah lahan cukup luas dari Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff.

Lahan masjid berbatasan dengan tembok utara kota lama Batavia serta berdekatan dengan gudang rempah perusahaan dagang Belanda, VOC dan Pasar Ikan. Bangunan gudang rempah itu sekarang kita kenal sebagai Museum Bahari.

Situs Sistem Informasi Masjid Kementerian Agama simas.kemenang.go.id menjelaskan bahwa Masjid Luar Batang telah dibuatkan Akta Ikrar Wakaf oleh Kantor Urusan Agama Penjaringan pada 1995. Masjid berdiri di atas lahan seluas 5.780 m2 dengan bangunan sebesar 3.280 m2.

Masjid yang saat ini berdiri hasil beberapa kali renovasi memiliki dua ruangan, yaitu ruang utama untuk salat di mana terdapat 12 tiang beton berdiri kokoh. Ruang lainnya yang bersisian, terdapat dua makam yang ditutupi tirai hijau, yaitu pusara Habib Husein dan Habib Kadir. Di tempat ini kita sering mendapati orang-orang sedang berdoa atau mengaji di sekitar makam.

Dari prasasti yang terdapat di masjid, diketahui bahwa Habib Husein wafat dalam usia 40 tahun pada 27 Ramadhan 1169 Hijriah atau bertepatan dengan 27 Juni 1756. Menurut peneliti mengenai keturunan Arab di Indonesia dari Universitas Delft, Belanda, Lodewijk Willem Christiaan van den Berg, prasasti tersebut dibuat pada 1916 silam.

Van den Berg yang hidup antara 1845-1927 itu dikenal sebagai orientalis yang lebih banyak membuat artikel berbahasa Prancis dibandingkan bahasa Belanda sebagai bahasa ibu. Ia juga dikenal memiliki peminatan khusus mengenai perkembangan Islam di Nusantara.

Lewat bukunya Le Hadhramout et les colonies arabes dans l’archipel Indien (Hadramaut dan Permukiman Arab di Kepulauan Hindia) yang ditulis pada 1886, ia ikut menyoroti fenomena para peziarah di makam kedua pendiri masjid tersebut.

“Tidak hanya golongan pribumi, ada juga Tiongkok campuran dan indo berziarah memohon keberhasilan dalam usaha mereka,” tulis van den Berg.

Ia juga menuliskan, para pendatang asal Hadramaut, lembah subur di Yaman, merupakan salah satu penyebar Islam tidak hanya di Batavia, tetapi juga di Nusantara. Van den Berg sendiri merupakan penentang paham-paham yang dibuat oleh Snouck Hurgronje mengenai penyebaran Islam di tanah air. (indonesiagoid)

Related posts