Bagaimana Jalankan Ibadah di Luar Angkasa? Simak di Sini

Literasi Indonesia – Para astoronot muslim tetap menjalankan ibadah shalat dan puasa saat mereka bertugas di luar angkasa. Tapi bagaimana caranya shalat? Arah kiblatnya ke mana? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin mampir di pikiran kalian.

Pada 2007, ketika astronaut Malaysia Sheikh Muszaphar Shukor ikut serta dalam misi perjalanan ke ruang angkasa, dia pun menanyakan kepada para ulama mengenai tata cara ibadah di luar angkasa.

Shukoor memang bukan muslimpertama yang ke luar angkasa, namun pertanyaannya ini menjadi perhatian dari 150 ilmuwan muslim dan ulama di bawah naungan badan antariksa nasional Malaysia ANGKASA dan Departemen Perkembangan Islamnya.

Dikutip dari NPR, Rabu (12/5) saat itu mereka mengadakan konferensi selama dua hari untuk membahas ‘Islam dan Kehidupan di Luar Angkasa’. Hasilnya, buklet pedoman yang diterbitkan untuk astronot muslim berjudul ‘A Guideline of Performing Ibadah (worship) at the International Space Station (ISS)’.

Waktu salat

Muslim melakukan salat lima kali sehari, sebelum Matahari terbit (subuh), tengah hari (zuhur), sore hari (ashar), setelah Matahari terbenam (magrib), dan malam hari (isya). Di luar angkasa, pesawat bergerak 17.400 mil per jam mengorbit Bumi 16 kali dalam sehari. Jika mengikuti perhitungan tersebut, apakah astronot harus menjalankan salat wajib sebanyak 80 kali?

Tentu saja agama tidak akan menyulitkan. Astronot bisa mengikuti waktu salat tempat peluncuran misi antariksanya. Mereka tetap melakukan salat lima kali sehari setiap 24 jam menggunakan hitungan waktu di Bumi.

Selain itu, jika tidak memungkinkan bagi astronaut menghentikan pekerjaan untuk salat, mereka dapat meringkas salat menjadi lebih pendek (qasar) atau menggabungkan (jamak) waktu salat tengah hari dengan sore (dzuhur dan ashar) atau waktu salat sore dan malam (maghrib dan isya).

Berwudu

Sebelum beribadah, seorang muslim harus melakukan ritual bersuci dengan membasuh wajah, tangan, lengan, kaki, dan rambut dengan air. Masalahnya, air di ISS sangat berharga bahkan keringat dan urine pun dapat didaur ulang.

Maka, astronot muslim dibolehkan bersuci menggunakan debu atau tayamum, yakni menyentuhkan telapak tangannya ke dinding atau cermin lalu mengusapkannya ke wajah, punggung tangan hingga siku sambil membaca doa bersuci.

Arah kiblat

Mengenai arah kiblat saat salat di luar angkasa, para ulama mengatakan ada empat pilihan. Pertama, menghadap Ka’bah di Bumi (yang akan bergerak relatif terhadap posisi ISS). Kedua, menghadap proyeksi Ka’bah di langit. Ketiga, menghadap Bumi. Keempat, boleh menghadap ke mana saja.

Gerakan salat

Gerakan salat di luar angkasa juga mendapat keringanan. Pasalnya, pada kondisi gravitasi nol, gerakan salat seperti berdiri, rukuk, dan sujud, sambil menggunakan pakaian luar angkasa, akan sulit dilakukan.

Panduan ibadah di luar angkasa menyederhanakan hal ini dengan menyebutkan astronaut bisa melakukan salat sambil berdiri saja. Jika tidak bisa berdiri, dia bisa duduk. Jika tidak bisa duduk, dipersilakan berbaring. Jika tidak dapat melakukan semua itu pun, astronot diizinkan untuk melakukan salat dengan isyarat gerak tubuh dengan kelopak matanya atau hanya dengan membayangkannya.

Kartografer Dr Kamal Abdali mengatakan, salat bukan sekadar gerakan seperti latihan senam. Melainkan yang lebih penting berkonsentrasi pada salatnya.

“Lanjutkan doa tanpa khawatir mengenai perubahan posisi atau gerakan salat yang tidak mungkin dilakukan di luar angkasa. Tuhan tidak meminta seseorang melakukan tugas di luar kemampuannya,” ujarnya.

Puasa

Para ulama fokus memungkinkan seorang muslim yang sedang berada di luar angkasa beribadah tanpa memaksanya melakukan sesuatu yang mungkin sangat sulit atau berbahaya. Para ulama juga memutuskan, untuk waktu puasa diperlakukan sama seperti salat, yakni mengikuti waktu tempat misi peluncuran.

Ketika astronaut Shukor hendak bertugas ke luar angkasa, kebetulan bertepatan dengan bulan Ramadhan. Saat itu dia berharap bisa berpuasa di luar angkasa. Namun keputusan berpuasa atau tidak, sepenuhnya ada di tangannya. Dia diperbolehkan untuk tidak berpuasa di luar angkasa, lalu mengganti puasanya setelah dia kembali ke Bumi.

Berkaitan dengan larangan muslim memakan daging babi dan alkohol, keharusan hewan yang akan dikonsumsi pun disembelih dengan cara tertentu, dan semua makanan harus halal (diperbolehkan oleh hukum Islam), bagaimana astronaut mengetahui makanan di ISS halal atau tidak?

Jika ragu, berdasarkan pedoman para ulama, para astronot diharuskan mendahulukan kebutuhan untuk makan secukupnya untuk menangkal rasa lapar dan agar terhindar dari sakit. (sumber: inet/Ilustras: Shutterstock)

Related posts