Belajar dari Tiga Sumber Ilmu Pengetahuan

Jakarta, Literasi Indonesia Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri handayani. Di depan memberikan contoh, di tengah membangun kemauan, di belakang memberi dukungan.

Itulah semboyan pendidikan dari Ki Hajar Dewantara yang telah menjadi akar inspirasi penegakan pendidikan di tanah air.

Ki Hajar Dewantara merupakan penggagas kemerdekaan belajar agar setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Pendidikan pun merupakan kebutuhan vital untuk mencetak generasi hebat demi mewujudkan kemajuan bangsa.

“Berkat Ki Hajar Dewantara, beliau telah memberikan dasar yang kuat pentingnya pendidikan nasional untuk mencapai tujuan bangsa. Sehingga saat ini kita bisa merasakan tidak ada perbedaan untuk anak-anak Indonesia memperoleh kesempatan yang sama mendapatkan pendidikan,” ujar Sekretaris Utama LIPI Nur Trie Aries Suestinigtyas, saat membuka acara Talk to Scientist Peringatan Hari Pendidikan 2021 “Semangat Belajar Mengeksplorasi Ilmu Pengetahuan”, Selasa (4/5).

“Dalam hal ini peran LIPI ada tiga, yaitu science for science, science for stakeholder, dan science for society. Berbagai platform terkait pendidikan ataupun ilmu pengetahuan telah disiapkan LIPI sejak pertama berdiri,” jelas Nur.

LIPI berkomitmen besar dapat memberikan ruang dan sumber daya yang diperlukan untuk dapat dimanfaatkan pengajar dan pelajar dari segala level pendidikan.

Proses belajar itu sendiri tidak memiliki batasan usia, ruang dan waktu. Dengan Indonesia sebagai negara heterogen, sumber pendidikan dan ilmu pengetahuan pun tersedia begitu banyak di sekeliling kita, mulai dari alam hingga budaya dan adat-istiadat di lingkungan sekitar.

Bayu Adjie, peneliti Kebun Raya Purwodadi LIPI, menyatakan bahwa kebun raya sebagai habitat ex-situ biodiversity Indonesia memiliki multifungsi sebagai tempat penelitian, pendidikan, pariwisata serta jasa lingkungan.

“Kebun raya tidak hanya tempat piknik dan cari jodoh. Pelajar dari mulai TK hingga mahasiswa bisa menggunakan kebun raya sebagai platform mengembangkan ilmu pengetahuan,” ujar Bayu.

Bayu menyebut bahwa saat ini perkembangan teknologi, seperti gadget, telah secara signifikan merebut kesempatan anak-anak untuk mau berinteraksi dengan alam.

“Sementara, keterikatan kita terhadap alam adalah faktor yang sangat penting, yang menghubungkan orang dengan alam dan mendukung konservasi alam. Experience anak belajar di alam secara langsung, seperti mencium, meraba, akan sangat berbeda dengan hanya melihat foto,” lanjutnya.

Selain kaya akan biodiversity, Indonesia juga memiliki kekayaan geodiversity. Kepala Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI di Karangsambung, Indra Riswadinata, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki keragaman batuan alam yang sangat besar. Seperti di Karangsambung misalnya, Indra menyebut, terdapat fenomena geologi bernilai ilmiah yaitu Dasar Samudra yang Tersingkap.

“Kulit bumi tersusun oleh lempeng yang bergerak, berpapasan, bahkan bertabrakan. Di dalam ilmu geologi kita mengenal Teori Tektonik Lempeng, yaitu pertemuan lempeng Samudra Indonesia-Australia bertemu dengan lempeng Eurasia. Itu menyebabkan batuan di dasar Samudra bercampur dengan batuan tepi benua, hingga semua batuan beku, sedimen, dan metamorf tersingkap. Hal ini semua dapat ditemukan dan dipelajari langsung di Balai Informasi dan Konservasi Kebumian LIPI di Karangsambung,” terang Indra.

Selain keragaman hayati dan batuan bumi, Indonesia juga kaya akan hahasa. Namun sayangnya, banyak bahasa daerah di Indonesia, terutama Indonesia Timur, terancam mengalami kepunahan. Peneliti Pusat Peneliti Masyarakat dan Budaya LIPI, Katubi, menekankan bahwa upaya penyelamatan punahnya bahasa daerah tidak dapat hanya mengandalkan akademisi.

“Revitalisasi bahasa melalui pendidikan dapat ditempuh dengan merancang program revitalisasi bahasa berbasis keluarga di rumah. Tidak semua revitalisasi bahasa harus melalui muatan lokal, karena belum tentu cocok di dalam ekologi kebahasaan, terutama di Indonesia Timur yang sangat heterogen,” kata Katubi.

Penyelamatan bahasa daerah menjadi sangat penting, mengingat bahasa adalah alat komunikasi yang menjadi salah satu simbol keberadaban manusia. “Bagi dunia ilmu pengetahuan, punahnya bahasa merupakan ancaman terhadap pemahaman kita tentang sejarah manusia, kognisi manusia, dan dunia hayati,” tegas Katubi. (berita dan foto: lipi)

Related posts