Ilmuwan Ungkap Usia Situs Arkeologi Paling Misterius Plain of Jars

Jakarta, Literasi Indonesia – Para peneliti akhirnya berhasil mengungkap usia situs arkeologi paling misterius Plain of Jars di Laos.

Plain of Jars merupakan daratan yang dihiasi guci batu besar yang dipahat dari batu pasir berusia ribuan tahun lalu.

Situs yang kemungkinan digunakan sebagai situs pemakaman tersebut diperkirakan berusia 3.000 tahun, lebih tua daripada perkiraan sebelumnya. Adapun guci besar diduga digunakan untuk menyimpan mayat manusia.

Meski begitu, hasil analisis tulang manusia yang dikubur di sisi guci menunjukkan bahwa mereka memiliki usia jauh lebih muda, sekitar 700 hingga 1.200 tahun. “Apa yang kami duga dari hal itu adalah pentingnya ritual yang bertahan lama dari situs-situs ini,” kata Louise Shewan, arkeolog University of Melbourne kepada Live Science.

Shewan dan koleganya Dougald O’Reilly seorang arkeolog dari Australian National University, telah mempelajari situs guci batu kuno itu sejak 2016 lalu. Mereka berdua bekerja sama dengan Thonglith Luangkoth, arkeolog dari Departemen Warisan alos di Vientiane.

Tahun lalu merupakan ekspedisi keempat yang mereka lakukan di Plain fo Jars. Berakhir tepat sebelum pembatasan perjalanan diberlakukan akibat pandemi COVID-19. Beberapa hasil dari penelitian diterbitkan dalam jurnal PLOS One pada 10 Maret 2021.

Sejauh ini, para arkeolog telah mempelajari tiga dari situs guci megalitikum yang tersebar di seluruh Laos Utara. Untuk studi baru, mereka berfokus pada situs paling terkenal yang terletak di sebelah barat Phonsavan. Situs tersebut merupakan salah satu dari 11 situs yang terdaftar sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO. Disebut Situs 1 berisi sekitar 400 guci batu yang tersebar di area seluas 24 hektare.

Madeleine Colani arkeolog asal Prancis yang pernah melakukan penelitian guci batu misterius pada tahun 1935 mengatakan sangat sulit untuk menentukan usia guci kuno di Plain of Jars. Meski begitu, ia mengaku telah menemukan sisa-sisa kerangka manusia yang ditempatkan di dalam guci dengan usia 700 hingga 1200 tahun.

Selain menemukan guci besar di atas tanah, mereka juga menemukan guci keramik yang terkubur di dekatnya. Peneliti menyebut, pemakaman kendi semacam itu relatif umum di beberapa bagian Asia pada masa Megalitikum.

Untuk mengetahui kapan jasad-jasad itu diletakkan di dalam guci, tim yang dipimpin oleh Shewan dan O’Reilly melakukan peneliti dengan menggunakan teknik yang disebut optically stimulated luminescence (OSL) pada sedimen atau kotoran yang ditemukan di bawah beberapa guci batu di Situs 2, beberapa kilometer di selatan Situs 1.

Teknik ini dilakukan untuk mengukur jumlah radiasi pengion yang diserap oleh butiran kuarsa di dalam sedimen, angka yang muncul digunakan untuk menghitung kapan butiran terakhir kali terkena sinar matahari.

“Tepat di bawah salah satu guci, kami mendapatkan rentang tahun 1350 hingga 730 SM, dan di bawah yang lain kami mendapatkan rentang waktu 860 hingga 350 SM,” kata Shewan.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menghubungkan antara usia tempayan dengan penguburan di situs yang sama. Para arkeolog juga belum mengetahui apakah orang yang menggunakan guci memiliki budaya yang sama saat dengan orang-orang ketika guci itu dibuat.

“Apakah mereka secara budaya terkait dengan orang-orang yang membuat guci adalah pertanyaan yang belum dapat kami definisikan,” katanya.

Selain itu, studi terbaru juga berhasil menganalisis dari mana batu pasir itu berasal. Mereka menyebut bahwa salah satu guci di Situs 1 telah dibawa dari tambang batu pasir sejauh 8 kilometer. “Apakah guci yang sudah selesai diseret menggunakan gerobak kayu atau kereta luncur? Ini tetap menjadi spekulatif,” tulis para peneliti. (sumber: kumparan/ Foto: Plain of Jars Archaeological Project)

Related posts