Edupreneurship Research Dorong Perguruan Tinggi Kembangkan Kurikulum Berbasis Kewirausahaan

Jakarta, Literasi Indonesia – Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) saat ini dihadapkan pada persaingan global yang lebih ketat.

Karenanya, PTKI dituntut mamu menyiapkan sumber daya mahasiswa yang unggul dan kompetitif, baik dari segi hard skill maupun soft skill.

Dosen Institut Pesantren Mathaliul Falah Pati Jawa Tengah Inayatul Ulya merekomendasikan pentingnya pengembangan kurikulum berbasis kewirausahaan pada PTKI. Rekomendasi ini didasarkan dari hasil penelitiannya yang bertajuk “Edupreneurship, Menyiapkan Guru MI Berjiwa Enterpreneur”. 

“Banyak mahasiswa yang cita-citanya itu ukuran kesuksesan lebih diyakini ketika mereka diterima sebagai karyawan, makanya mereka tidak punya kreatifitas untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Ini dilema ketika melamar pekerjaan tetapi tidak diterima, sehingga kemudian menimbulkan persoalan jika tidak dibekali skill kewirausahaan,” terang Inayatul Ulya dalam Webinar Tadarus Litapdimas seri pertama tahun 2021, Jumat (16/4).

Webinar ini mengusung tema “Sumbangsih Pendidikan Islam, Enterpreneursip dan Peradaban Dunia”. Hasil penelitian Ulya mendorong PTKI untuk merancang strategi pengembangan kurikulum berbasis kewirausahaan. “PTKI perlu merancang strategi pengembangan kurikulum berbasis kewirausahaan,” tegasnya.

Menurut Ulya, setidaknya ada tiga strategi yang bisa dikembangkan PTKI. Pertama, integrasi kewirausahaan ke dalam kurikulum PTKI. Kedua, pemagangan mahasiswa dalam dunia industri. Ketiga, mendorong praktik berwirausaha di kalangan mahasiswa. 

“Ketiga rekomendasi itu ternyata sejalan dengan model kurikulum kampus merdeka, merdeka belajar belakangan ini,” jelasnya.


Webinar ini juga menghadirkan narasumber lain, yaitu M Ali Sibram Malisi. Dosen IAIN Palangka Raya ini menyampaikan hasil penelitiannya yang berjudul “Idham Cholid And Normal Islam Educational Reform”. Ini merupakan penelitian tentang sosok Kyai Idham Chalid, pembaharu dunia pendidikan Islam.

Ali Sibran memotret Idham Cholid sebagai tokoh yang telah melakukan integrasi sistem pendidikan melalui modernisasi dengan tradisi-tradisi keilmuan klasik di pesantren Rasyidiyah Chalidiyah Banjarmasin. 

“Integrasi itu mewujud pada aspek sains dan agama yang diimplementasikan pada lembaga pendidikan sekolah Normal Islam,” jelasnya.

“Normal Islam merupakan bentuk integrasi antara wawasan pengetahuan umum dalam pesantren. Tujuan pesantren tidak hanya menciptakan guru-guru agama saja, tetapi sekaligus meningkatkan kapasitas sisi politik, kultural, ekonomi dan sosial serta peran alumni di dalam masyarakat,” jelas Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Palangkaraya ini.

Temuan dan rekomendasi kedua penelitian ini sejalan dengan paparan yang disampaikan pembicara kunci, Muhammad Ali Ramdhani. Sebelumnya, Direktur Jenderal Pendidikan Islam ini mengatakan, bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam harus menyiapkan lulusan agar mampu bersaing di sektor ketenagakerjaan terutama dalam menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya bagi masyarakat.

Analis Kebijakan Ahli Madya/Koordinator Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat DIKTIS, Dr. Suwendi, mengapresiasi dua hasil penelitian yang dipresentasikan. Sebagai langkah antisipatif meminimalisir angka pengangguran, Suwendi menekankan perluya terobosan relasi dunia pendidikan dan pekerjaan sehingga equivalen. 

Kegiatan webinar Tadarus Litapdimas perdana ini, selain online juga dihadiri secara offline oleh para ketua LP2M se-Indonesia yang sedang mengadakan rapat koordinasi di Bogor, 15-17 April 2021. (*/kemenag)

Related posts