K-Innovation untuk Tata Kelola Iptek dan Inovasi Indonesia

Jakarta, Literasi Indonesia – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Iptek dan Inovasi (P2KMI) kembali melanjutkan kerjasama dengan Science and Technology Policy Institute (STEPI) – Korea Selatan di bidang iptekin tahun 2021.

“Melalui agenda The Kick-off Seminar on 2021 K-Innovation Partnership Program with Indonesia menjadi waktu yang tepat untuk memulai tahun kedua dalam proyek kemitraan STEPI dan LIPI tentang tata kelola Sains, Teknologi, dan Inovasi atau STI, termasuk mekanisme koordinasi, kerangka kelembagaan, serta sistem keuangan dan investasi di Indonesia,” jelas Sekretaris Kementerian/ Sekretaris Utama Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional, Mego Pinandito, dalam webinar The 2021 K-Innovation Partnership Program with Indonesia pada Kamis (15/4).

Mego menyatakan, banyak hal yang dapat dipelajari dari Korea Selatan. “Kami sangat senang dapat kemitraan antara LIPI dan STEPI. Kemitraan ini telah berjalan selama beberapa tahun dan kami berharap dapat menjaga hubungan baik ini, terutama selama periode krusial transformasi STI kelembagaan Indonesia.

“Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional berharap proyek ini menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti dan roadmap implementasi Tata Kelola STI di Indonesia, sehingga kinerja STI dapat dipromosikan dan perekonomian serta daya saing negara kita dapat ditingkatkan,” paparnya.

Plt. Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI, Dudi Hidayat, mengungkapkan Korea Selatan merupakan negara yang secara historis memiliki sejarah pembangunan ekonomi yang hampir sama dengan Indonesia, namun perkembangan STI di Indonesia dinilai cukup lambat.

“Seperti yang kita ketahui, Korea Selatan berhasil mempromosikan dan memanfaatkan perkembangan teknologi untuk pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, cukup masuk akal bagi Indonesia untuk mempelajari pengalaman dari Korea. Namun demikian, hal ini perlu dilakukan dengan pemahaman dan mekanisme yang komprehensif, serta konteks yang sesuai, terutama konteks kelembagaan dan regulasi,” ungkapnya.


Menurut Dudi, proyek kerja sama ini akan dikerjakan bersama oleh tim Indonesia yang terdiri dari peneliti dari LIPI, Bappenas, dan Kemenristek dan tentunya para ahli Korea Selatan.

“Proyek tersebut mencakup tiga bidang diantaranya; Improving legal framework and institutional arrangements of mission-oriented organization such as think-tank in Indonesia; Designing an evaluation mechanism for PRN 2020-2024 and conducting the implementation of the first year of PRN 2020-2024; dan Restructuring regulations on S&T in Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu, koordinator program penelitian manajemen IPTEK dan Inovasi P2KMI LIPI, Anugerah Yuka Asmara, menjelaskan informasi mengenai kebijakan STI.

“Kebijakan STI merupakan kebijakan yang mengutamakan inovasi dengan melibatkan banyak pihak interaktif dan sebaran sistem yang luas, atau sebagai kebijakan yang dirancang untuk bekerja pada karakteristik sistem atau kebijakan yang berorientasi pada permintaan. Hal itu bertujuan untuk mendorong terciptanya sistem inovasi nasional atau National Innovation System yang mengarah pada daya saing nasional,” papar Anugerah.

Pada kesempatan yang sama, Kusnandar, peneliti P2KMI LIPI, menyatakan, PRN 2020-2024 terdiri dari 9 fokus, 30 tema, dan 47 topik. “Tema PRN meliputi, pangan; energi; Kesehatan; transportasi; teknik; keamanan dan pertahan nasional; maritim; sosial, hukum, seni-budaya, dan pendidikan; serta multidisiplin dan lintas sektor,” ungkapnya.

Webinar ini juga menghadirkan narasumber lainnya, yaitu; Deok Soon Yim, Senior Research Fellow of STEPI; Kiseok Kwon, Hanbat National University; Youngjoo Ko, President of Daejeon Institute of Science &Technology for Enterprise & People; Seongsoo Kim, Hankook University of Foreign Studies; dan Dadang Ramdhan, P2KMI LIPI. (Sumber: Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI)

Related posts