Literasi Ilmu Pengetahuan, Tabungan Kemandirian Bangsa

Jakarta, Literasi Indonesia – LIPI secara ikonik adalah tempat berkumpulnya para ilmuwan yang memiliki wawasan, tanggung jawab, dan misi kemanusiaan.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko menyatakan bahwa Indonesia kini semakin maju di satu sisi, tapi di sisi lain tidak bisa dipungkiri bahwa Indonesia masih tertinggal dalam ilmu pengetahuan.

“Problem utamanya adalah critical mass dari populasi literasi ilmu pengetahuan yang masih rendah. Meskipun sudah 204 tahun Indonesia memiliki lembaga ilmu pengetahuan, tetapi masih belum cukup,” ungkap Handoko dalam wawancara dengan President TV, Selasa (13/4).

”Literasi ilmu pengetahuan harus ada di segala lini. Literasi ilmu pengetahuan sama dengan Pendidikan, perlu waktu,” tegasnya.
Misalnya, Handoko menyebutkan, Jepang sudah bisa membuat kapal terbang dan tidak ada warganya yang buta huruf.

“Kelihatannya kita punya banyak kebisaan, tapi critical massnya tidak tinggi. Karena ada tapi sedikit dan mencar di mana-mana, di tengah populasi yang tinggi dan geografis yang luas,” tuturnya.

Sains, menurut Handoko, adalah kompetisi orang-orang pintar yang harus memiliki critical mass. “LIPI memposisikan diri sebagai fasilitator. Kami ingin menyelesaikan problem SDM dan infrastruktir,” jelasnya.

“Itu sebabnya kami menarik diaspora bidang apapun dengan latar belakang Pendidikan S3 untuk kembali ke Indonesia, agar ada level competitiveness agar starting point tidak jauh,” sambungnya.

“Mestinya kita bisa membuat sesuatu seperti Singapura yang menyatukan akademisi, bisnis, dan government agar critical mass bisa tercapai,” ujar Setyono Djuandi Darmono, Presiden Komisaris PT. Jababeka pada kesempatan yang sama.

“Kita fokus pada apa yang dibutuhkan rakyat, misalnya membuat kapal nelayan kecepatan tinggi dengan solar system,” tandasnya.

Menurut Darmono, Indonesia belum mampu memenangkan persaingan dengan negara maju seperti Amerika, Jerman, atau Jepang.
“Saintis kita tidak menang praktek.“Agar berprestasi, peneliti harus dikasih pancing, kail, dan lahan. Apa yang dipelajari di laboratorium bisa dipraktekkan di pabrik. Mulai dari pasar yang kecil, bisa dikembangkan ke beberapa negara dan dunia,” paparnya dalam acara yang dipandu oleh akademisi ternama, Komarudin Hidayat.

Mengenai industri yang tidak mau menggunakan riset dalam negeri, Handoko menduga hasil riset peneliti di dalam negeri kurang diyakini oleh industri dan pengambil kebijakan. Menurutnya, riset yang dipandang bagus secara global, akan dicari.

“Riset sama dengan bisnis, namun beda objek dan seharusnya kita banyak memberi masukan dan perspektif kepada politisi,” gagasnya. “Untuk mencapai itu, kepercayaan dan keyakinan bahwa seorang ilmuwan adalah seorang yang diakui mumpuni oleh komunitas,” tambahnya.

Dalam riset, Handoko menekankan, peneliti harus professional dan sangat menguasai ilmunya. “Kita juga harus mengakui bahwa ada hal yang belum kita kuasai. Misalnya dalam kasus vaksin, yang ditangani oleh konsorsium riset vaksin Merah Putih,” sebutnya.

Di dalam konsorsium tersebut, Handoko menyebutkan, ada enam lembaga riset, termasuk LIPI yang meneliti berbagai platform untuk menemukan vaksin. “

Tahapan menemukan vaksin tidak bisa hanya sampai bibit vaksin dalam bentuk sel saja, harus melalui tahap pemurnian, dan melalui beberapa tahapan lainnya seperti uji pra klinis ke hewan dan uji klinis ke manusia,” jelasnya.

Lalu mengapa Indonesia tidak bisa maju dan mandiri secepat yang lain? Kedua narasumber sepakat bahwa tabungan pengetahuan bangsa Indonesia masih kurang.

“Riset membutuhkan keterampilan dan ‘jam terbang’, dan itu harus ada tabungannya,” pungkas Handoko. (Sumber: Humas LIPI)

Related posts