Diskusi Literasi: Guru Perlu Membuka Diri Menambah Wawasan tentang PI/KI

Malang, Literasi Indonesia – “Berdasarkan data kita di lapangan, masih ada guru-guru yang belum tahu tentang seluk-beluk piblikasi ilmiah. Termasuk mana yang harus ber-ISBN, dan mana pula media yang disebut ber-ISSN.”

Demikian disampaikan Nova Indra, pimpinan lembaga Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (P3SDM) Melati saat menggelar diskusi literas di Kota Malang, Sabtu (27/3) pagi.

Menurut novelis dan penulis buku Langkah Mudah Menjadi Penulis itu, kurangnya wawasan guru terkait alur dan seluk-beluk publikasi ilmiah tersebut seharusnya tidak perlu terjadi .

“Sudah 12 tahun lamanya peraturan yang berkaitan dengan kewajiban guru ASN melakukan Pengembangan Diri Berkelanjutan (PKB). Di dalamnya ada kewajiban memenuhi unsur Publikasi Ilmiah dan Karya Inovatif (PI/KI). Dan banyak aturan turunan yang menjelaskan secara gamblang tentang itu.

Jadi, sambungnya, sudah tidak wajar bila ada guru yang masih bertanya apa itu ISBN dan ISSN. Seperti beberapa hari lalu ada guru yang bertanya kepada tim kami, ‘apakah tempat publikasi artikelnya sudah ber-ISBN?

Menurut pria yang intens membimbing guru-guru dalam menelurkan karya tulis termasuk penyusunan PTK-PTS dan Best Practice itu, saatnya guru-guru memuka mata lebih lebar tentang hal-hal yang berkaitan dengan tugas dan kewajiban dalam profesinya.

“Sangat simpel kok. Aturan-aturan itu jelas menyebutkan tanpa harus ada interpretasi ulang. Bila guru-guru tidak mau menambah wawasannya terkait bidang keprofesiannya sendiri, di sinilah muncul oknum-oknum yang memanfaatkannya dengan melakukan pembodohan terhadap guru,” tegasnya.

Lebih jauh ia menyampaikan, masih banyaknya oknum-oknum yang menjual naskah PTK sampai berharga jutaan, atau mengajak guru-guru menulis buku sesuai keinginannya saja tanpa tahu apakah bisa disebut sebagai publikasi ilmiah ber-ISBN atau tidak.

“Untuk buku ber-ISBN, jelas-jelas ada aturan yang mengikat guru, tidak asal tulis buku saja. Harus disesuaikan dengan syarat pemenuhan angka kredit dalam kepangkatannya. Kalau guru hanya diajak menulis buku tentang pengalamannya menjadi pendidik, tanpa menulis PTK yang dipublikasi menjadi buku ber-ISBN dan dijurnalkan di media ilmiah ber-ISSN, maka itu pembodohan,”  pungkasnya.

Hadir dalam diskusi literasi itu berbagai unsur dari guru ASN, guru honorer, dosen, dan mahasiswa pasca sarjana. (d’)

Related posts