Dilema, Sekolah dengan Teknologi Digital dan Kekhawatiran Learning Loss

Jakarta, Literasi Indonesia – Ungkapan kekhawatiran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Medikbud) Nadiem Makarim tentang learning loss bila belajar tatap muka tidak dimulai, adalah sebuah dilema.

Beberapa bulan lalu, Nadiem mengungkapkan harapannya untuk pendidikan Indonesia setelah masa krisis COVID-19 telah usai. Ia mengatakan bahwa walaupun pembelajaran dalam jaringan (daring) masih tidak ideal, namun nantinya jika dikombinasikan dengan pembelajaran tatap muka potensi pembelajaran siswa akan luar biasa.

“Walaupun masih tidak ideal dan masih tidak optimal, memang pembelajaran dengan metode tatap muka itu banyak positifnya tapi jika kita menggunakan dan dikombinasikan dengan teknologi potensi belajarnya menjadi luar biasa. Kalau ada kombinasi antara face to face tapi juga ada dengan remote learning dan online learning, itu potensinya menjadi lebih efektif menurut saya,” ungkap Nadiem, melalui live streaming pada acara Hardiknas tahun lalu melalui channel  YouTube.

Nadiem melihat bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan Indonesia ini, sebenarnya bisa diterapkan tidak hanya pada sistem pembelajaran namun juga pada bagian back-end sistemnya seperti cara guru memperbaiki proses belajar.

“Bukan hanya di sistem pembelajarannya, tapi di semua back-end sistemnya juga. Seperti cara guru melatih diri, bagaimana cara guru mencari informasi, bagaimana koordinasi atau komunikasi antara guru dan orang tua itu kan semuanya bisa di digitalisasi,” jelas Nadiem.

“Jadinya itu (pembelajaran dengan teknologi) merupakan suatu akselerasi di tim kami untuk mendigitalisasi berbagai macam hal. Konsepnya bukan untuk menggantikan guru tetapi malah untuk memperkuat potensi guru. Teknologi untuk memperkuat potensi guru. Itu menurut saya luar biasa,” ungkapnya.

Nadiem menjelaskan bahwa melalui inovasi teknologi dalam mendidik yang dilakukan pihaknya saat ini, ia berharap perubahan pendidikan Indonesia yang sudah dilengkapi teknologi ini tidak lagi diputarbalik.

“Saya hanya punya waktu empat tahun ya. Jadi saya bisa di awalnya saja. Tapi harapan saya dengan kita menaruhkan emphasis kepada teknologi harapannya perubahan itu tidak bisa diputarbalik, harapannya kita bukan hanya sebagai masyarakat belajar dari Covid-19 tapi semua inisiatif digitalisasi kita terjadi dan tidak dapat diputarbalik lagi,” jelas Nadiem.

Menurut Nadiem, walaupun pendidikan akan masuk ke dalam digitalisasi teknologi, ujung-ujungnya tetaplah seorang guru yang memiliki peranan penting sebagai seorang penggerak dalam perubahan. (ist)

Related posts