Social Distancing; Jangan Panik, Semua Akan Baik-baik Saja

Literasi Indonesia — Setiap kata yang keluar dari mulut adalah, ‘rindu suasana yang dulu.’ Di mana bisa bebas beraktivitas tanpa rasa was-was yang menyelimuti diri.

Sudah hampir enam hari, kegiatan belajar dipindahkan dari sekolah menjadi pembelajaran dari rumah. Kita kenal dengan istilah home learning. Mulanya, bagi peserta didik dan guru ini sesuatu yang menarik. Semua pada enjoy dengan bentuk kegiatan belajar yang baru ini. Akan dijalani selama 14 hari sesuai surat edaran Gubernur Sumatera Barat No: 360/322/BPBD-2020 perihal Penanganan Covid-19 di Sumatera Barat.

Dari hasil pengamatan penulis, dalam aktivitas sehari-hari banyak hal yang sudah tidak bisa diprediksi. Entah apa yang akan terjadi ke depan seandai kondisi social distancing kalau berlanjut. Ini penulis sampaikan karena banyak problem sosial yang muncul, di antaranya masalah ekonomi, interaksi antar masyarakat mulai melemah bahkan bisa dikatakan nyaris hilang rasa empati. Yang penting selamatkan diri masing masing karena virus bisa ada di mana-mana.

Di sini, penulis ingin bercerita pengalaman kemarin, hari Rabu tanggal 25 Maret 2020, sekaligus hari itu libur nasional. Penulis berniat mengunjungi orang tua di kampung. Seperti biasa, penulis sangat suka naik transportasi umum seperti kereta, atau bus. Jalanan agak sepi, penulis menaiki bus dari Payakumbuh menuju Padang. Yang membuat kaget, ternyata di bus itu hanya sopirnya saja. Penulis pun bertanya, “kenapa kosong, pak?” Sang sopir pun bercerita, “sudah hari ketiga seperti ini, semenjak Corona.” Maksud si sopir mungkin karena adanya pembatasan orang untuk bepergian alias social distancing. Penumpang sepi, kalau mereka tidak bekerja sesuai grayek, maka tidak ada pemasukan. Sementara kebutuhan pribadi dan keluarga harus tetap diadakan. Tetapi ia adalah sopir yang hebat, tetap tersenyum. Katanya, “semoga Allah mendengar doa saya dan negara kita menjadi baik kembali.” Dalam hati, penulis mengucapkan “aamiin.”

Dalam perjalanan selanjutnya, penulis melihat upaya Dinas Kesehatan melakukan pemeriksaan kesehatan di perbatasan kota atau kabupaten bekerjasama dengan pihak terkait. Setiap pengemudi dan penumpang disuruh turun dari kendaraan. Masing-masing ditanya tentang kesehatan dan sosialisasi cuci tangan, selanjutnya diperbolehkan melanjutkan perjalanan.

Akhirnya penulis pun sampai di kampung dan bertemu orang tua. Sambil menyelesaikan rutinitas membersihkan rumah orang tua, kemudian kami dapat berita kalau di kampung tersebut juga ditemukan orang dalam pemantauan (ODP) Covid-19. Dia adalah seorang gadis yang pulang dari Jakarta hari Selasa tanggal 24 Maret lalu. Begitu menurut sumber informasi petugas KKP Padang Wilayah Kerja Badnara Internasional Minangkabau (BIM). Hari itu heboh sekali berita ODP. Langsung membuat masyarakat ketakutan, bahkan ada masyarakat yang mengungsi karena bertetangga dengan seorang ODP. Na’uzubillah. Kita sebagai masyarakat, jangan terlalu panik karena sudah dalam pengawasan tim kesehatan

Seperti diketahui bersama, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutuskan perpanjangan status keadaan darurat wabah bencana virus Corona di Indonesia. Hal itu dijelaskan dalam SK kepala BNPB No 13.A tahun 2020 yang dimulai dari 29 Februari sampai 29 Mei 2020 atau 91 hari.

Bisa dibayangkan bagaimana tersiksanya semua warga dengan kondisi ini. Semoga ini tidak berlaku untuk kita warga Sumatera Barat. Karena kita mau melaksanakan ibadah Ramadhan. Harapan kita, pemerintah lebih memberikan solusi yang lebih solutif dari pada kata “libur.”

Referensi

  1. Surat edaran gubernur Sumatera Barat no: 360/322/BPBD-2020 perihal penanganan Covid -19 diSumatera Barat
  2. sumber informasi petugas KKP Padang-wilkerBIM
  3. Masa Darurat Corona Diperpanjang hingga Lebaran https://www.harianhaluan.com/news/detail/90224/masa-darurat-corona-diperpanjang-hingga-lebaran

Penulis: Witrina, S.Sos (Guru SMA Negeri 2 Padangpanjang)

Related posts

Leave a Comment