Mengenal Filosofi Silat Minangkabau; Langkah Kehidupan Tradisi

Literasi Indonesia — Keragaman budaya yang ada di Nusantara begitu kaya. Sejak dahulu kala, khasanah budaya negeri yang indah ini, selalu diminati oleh pihak lain, diteliti, didalami, bahkan kemudian banyak yang dimiliki oleh mereka yang bukan pewaris sesungguhnya.

Kini sampailah kita pada kondisi budaya yang mulai tenggelam satu demi satu. Semakin maju perkembangan zaman, semakin kita lupa dengan kekayaan budaya yang turun-temurun menjadi kebanggaan para leluhur. Padahal, tradisi dan budaya yang ada di masing-masing darah di Nusantara ini, merupakan warisan tak ternilai yang ditinggalkan para pendahulu kita. Bukan untuk dilupakan, tapi dilestarikan dan terus dijaga kemurniannya. Melestarikan budaya dan tradisi daerah itu, akhirnya menjadi kewajiban yang dibebankan kepada setiap kita, individu masyarakat.

Seperti tradisi beladiri daerah, atau yang lebih dikenal di daerah Melayu dengan sebutan silat, mengalami berbagai pendangkalan dari waktu ke waktu. Datangnya aliran-aliran beladiri lain, kadang menjadi alasan untuk ‘memaafkan’ keteledoran kita bersama dalam menjaga kelestariannya.

Silat, sebagai beladiri tradisi yang dimiliki masing-masing daerah di hamparan tanah Melayu, bahkan semakin terpuruk dengan kondisi kurang perhatian dan kecintaan pewarisnya. Seperti di Minangkabau yang dikenal dengan Silek Minang, yang memiliki kekhasan dan identik dengan pembentukan kepribadian generasi, kini makin kabur ditelan zaman. Untuk itu, sebagai pewaris budaya yang memiliki kesadaran, mengembalikan tradisi ini ke tempat yang tepat dan semestinya, merupakan upaya bersama yang mesti dilakukan sepanjang masa.

Di Minangkabau, Silek bukanlah sekedar bentuk keterampilan dan keahlian beladiri. Lebih jauh dari itu, Silek Minang identik dengan proses pembelajaran untuk membentuk kepribadian yang tangguh. Tangguh pada bidang keterampilan ragawi, juga tangguh dalam memahami diri sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia. Karena itu, pada masa lalu di daerah ini, selain diajarkan secara umum kepada generasi muda, juga diajarkan secara khusus kepada orang-orang pilihan. Pribadi-pribadi yang dianggap mampu untuk mewarisi tradisi untuk seterusnya diajarkan lagi pada generasi mendatang.

Sementara itu, pengajaran yang dilakukan oleh para guru silat (Minangkabau: Tuo Silek) daerah ini, bukanlah sebuah proses yang mudah dan ringan. Pengajaran Silek sebagai bagian dari tradisi yang ditujukan untuk keterampilan membeladiri dan menjaga daerah, diberikan kepada orang-orang yang sungguh-sungguh berniat mendalaminya.

Mencari Guru

Proses mendalami Silek Minang, yang kental dengan ajaran kebaikan, diawali dengan memilih dan mencari guru yang akan mengajarkan. Beragamnya aliran silat itu sendiri, merupakan bentuk pilihan yang dapat dijadikan tujuan belajar bagi para pencari ilmu di darah ini.

Anak Sasian, begitu istilahnya seorang murid silat di Minangkabau. Untuk menjadi anak sasian, seorang calon pebelajar mesti melalui aturan dan rintangan yang tidak mudah. Banyak syarat yang mesti dipenuhi oleh calon pebelajar. Syarat-syarat dimaksud, berbeda-beda bagi tiap Tuo Silek  dalam menerima anak sasian yang akan dibinanya menjadi penerus tradisi. Namun pada umumnya syarat yang lazim tersebut adalah:

  1. kain putiah (kain putih), kain putih ini melambangkan kesucian niat dari seorang anak sasian untuk sungguh-sungguh belajar, dan mengunakan keterampilannya dalam hal kebaikan;
  2. pisau, biasanya pisau yang dimaksud adalah pisau sirauik (sejenis kerambit). Pemahamannya adalah bahwa seorang pesilat tajam pemahamannya seperti tajamnya pisau, begitu pula dengan gerakannya. Selain itupun dipahami bahwa pisau yang bentuk fisiknya melengkung, menggambarkan bahwa bila seorang pesilat salah dalam menggunakan ketajamannya, maka akan berbalik arah dan menyakiti dirinya sendiri.
  3. camin ketek (cermin kecil), benda yang sebenarnya tidak memiliki kaitan dengan pembelajaran gerak dan langkah silat ini, merupakan cerminan diri pesilat dan ilmu yang dipelajari. Memahami bahwa setiap pelajaran, keterampilan dan keahliannya akan menjadi cermin dirinya di tengah masyarakat kelak;
  4. siriah langkok (daun sirih, kapur sirih, pinang, dan lainnya), merupakan syarat utama untuk digunakan di awal kesaksian diterimanya calon pebelajar silat oleh Tuo Silek menjadi anak sasiannya;
  5. Kumayan putiah (kemenyan putih), alat yang digunakan sebagai lambing perantara guru dan murid dalam prosesi kesaksian.

Biasanya selain syarat-syarat di atas seorang anak sasian juga akan membawakan gurunya satu stel baju silat untuk dipakai melatih dan mengajarinya. Demikian juga dengan persyaratan lain seperti membawakan gula, kopi, teh, rokok dan beras. Semua itu memberikan gambaran bahwa seorang anak sasian serius untuk belajar dan memberikan penghormatan kepada gurunya.

Setelah diterima sebagai anak sasian melalui prosesi yang bervariasi pula di masing-masing aliran Silek Minang, maka resmilah seorang calon pebelajar menjadi anak sasian yang akan diajari dan dibimbing. Selama itu pulalah seorang anak sasian  akan diajari dengan berbagai teknik beladiri. (bersambung)

Penulis: Nova Indra (pimpinan lembaga Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia – P3SDM – Melati, penulis buku Membangun Kecerdasan Spiritual; Implementasi Filosofis Beladiri Minangkabau)

Related posts

Leave a Comment