Guru Tak Tergantikan Teknologi? Tunggu Dulu, Baca Ini!

Kota Malang, Literasi Indonesia — Benarkah kehadiran guru secara fisik tak tergantikan oleh teknologi? Bahkan ada penelitian yang menyebutkan bahwa siswa tidak menyukai pembelajaran jarak jauh.

Ungkapan itu lalu dijadikan sebagian pihak yang gagap teknologi sebagai senjata untuk bermanuver di tengah kesulitan yang dihadapi negara dan rakyat, karena Pandemi Covid-19 masih merajalela. Disinyalir, akan dijadikan alat pertahanan diri bagi pemegang profesi pendidik yang tidak mau belajar menjadi guru yang lebih cerdas.

Di peringatan Hari Pendidikan Nasional 2020 yang mengambil tema ‘Belajar dari Covid-19’, memiliki makna yang sangat dalam. Wabah penyakit yang berasal dari virus mematikan itu telah merubah wajah peradaban dunia, termasuk dunia pendidikan yang kini harus menyesuaikan diri dengan keadaan.

Sebagai seorang guru, tentunya memiliki keterbatasan yang selama ini membiasakan diri melakukan tugas membelajarkan siswa dengan teknik konvensional. Bertatap muka dengan siswa di ruang-ruang kelas, memberikan penjelasan sesuai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, lalu melakukan penilaian-penilaian sesuai tuntunan.

Ternyata semua teknik dan media konvensional itu tak selamanya bisa dilakukan. Tidak selalu menjadi solusi bagi upaya transfer pengetahuan kepada peserta didik di setiap jenjang. Adakalanya keadaan tertentu yang datang memaksa untuk merubah media dan teknik yang digunakan.

Dengan kata lain, media tatap muka bukanlah satu-satunya yang harus dijadikan senjata untuk mengatakan bahwa guru tak tergantikan teknologi. Kini telah tiba saatnya bagi setiap orang di dunia merubah paradigmanya tentang cara-cara menjalankan profesi.

Sebagai contoh, dunia perdagangan yang terimbas oleh Covid-19, kini telah bergerak maju pada sistem penjualan online. Karena untuk melakukan sistem penjualan konvensional sudah terhalang oleh berbagai kebijakan pemerintah terkait dengan upaya memutus rantai penyebaran virus. Tapi tidak ada kita dengar ungkapan, ‘pasar konvensional tidak tergantikan oleh teknologi.’

Begitu juga dunia pendidikan, telah banyak bukti bahwa pendidikan yang dibaurkan dengan sistem pembelajaran online, menggunakan perangkat multimedia dengan segala kreativitas pendidik, memiliki keunggulan lebih daripada hanya mengutamakan sistem pembelajaran konvensional; tatap muka. Lalu mengapa ada survei yang mengatakan bahwa siswa tidak nyaman dengan sistem pembelajaran jarak jauh?

Hal itu adalah ungkapan pembodohan bagi generasi harapan. Intinya memang siswa merasa jenuh selama learning from home sejak dua bulan terakhir. Namun kejenuhan mereka seharusnya dijadikan indikator survei yang lebih objektif. Mengapa mereka merasa jenuh? Jawabannya adalah karena guru mata pelajaran yang jumlah tidak sedikit, selalu memberikan tugas setiap hari. Jangankan siswa, guru pun akan angkat tangan bila perlakukan seperti itu.

Media apapun yang digunakan, sebenarnya bisa dicapai dengan teknik yang sama seperti menggunakan media tatap muka. Melalui sistem pembelajaran jarak jauh, guru tetap bisa menerangkan materi pembelajaran dengan cara yang sama. Guru bisa membuat video pembelajaran persis sama saat berada di ruang kelas. Lalu video-video itu diunggah ke media tertentu, dan selanjutnya ditonton oleh siswa di rumah. Akan lebih mengena rasanya media seperti ini digunakan guru. Siswa dapat mengulang penjelasan guru tentang materi yang sedang dipelajarinya dengan mudah, tanpa harus mengacungkan jari dan bertanya untuk mendapat penjelasan tambahan.

Lalu apa sebenarnya yang jadi masalah saat ini? Bila dijawab dengan jujur, keterampilan dan keahlian guru lah yang menjadi persoalan utama. Bagaimana pendidikan akan berlangsung dengan baik bila guru tidak kreatif? Bagaimana hasil pendidikan akan unggul bila guru masih gagap teknologi?

Seorang guru yang hanya mampu mengirimkan bahan-bahan tugas belajar melalui email; bahkan ada yang minta bantuan pihak lain untuk mengirimkannya karena ketidakmampuan mengoperasikan surat elektronik itu, atau mengirimkan bahan tugas melalui media sosial seperti aplikasi messenger dan aplikasi WhatsApp, tentu bukan seperti itu guru yang diharapkan sebagai ujung tombak pencapaian kualitas pendidikan yang lebih baik.

Sebagai perbandingan yang bisa dijadikan renungan oleh para guru, lihatlah ketika wabah Covid-19 membuat Kota Wuhan dilockdown dan mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana harus belajar jarak jauh ketika dijemput pulang oleh pemerintah. Adakah keluhan mereka tentang materi kuliah dari para dosen dan gurunya? Ternyata menurut data, mereka bisa belajar seperti biasa, dengan menonton video  streaming atau rekaman video yang bisa diputar ulang. Tidak ada keluhan sama sekali. Semua itu karena guru dan dosen mereka telah terbiasa dengan keterampilan dan keahlian teknologi.

Sementara kita di dalam negeri, masih saja berkutat untuk menjaga marwah dengan cara yang tidak pantas bagi pengembangan mutu pendidikan dan kualitas generasi. Kalaupun bahan pembelajaran yang dibuat oleh guru dengan cara merekam video belajar itu terkendala ditonton oleh siswa karena masalah jaringan interrnet, itu lain soal, bukan kesalahan guru. Terbatasnya kekuatan jaringan internet di banyak daerah di Indonesia, merupakan tanggungjawab pemerintah. Jangan kambinghitamkan kejenuhan siswa dan jaringan internet hanya karena menutupi ketidakmampuan berkreasi sebagai pendidik di tengah wabah virus Covid-19 ini.

Mari lebih cerdas, jadi guru yang terampil menggunakan beragam media pembelajaran, baik offline maupun online. Ikuti perkembangan zaman yang penuh dengan hal baru. Kehadiran teknologi bukan melemahkan, tapi memperkuat segala sumber daya yang ada di dunia pendidikan.

Penulis: Nova Indra, pimpinan lembaga Pusat Pengkajian & Pengembangan Sumber Daya Manusia (P3SDM) Melati

Related posts

Leave a Comment