Falsafah Silat Minangkabau; Keseimbangan Antara Akal dan Rasa

Literasi Indonesia — Menjadi seorang pesilat, selain turut melestarikan budaya dan tradisi negeri sendiri, sekaligus menempa diri ke arah pematangan konsep kejiwaan yang hakiki. Silat, bukan sekedar keterampilan memainkan seni gerak beladiri yang indah dan mematikan, tapi juga mengisi setiap unsur yang ada dalam diri manusia, untuk memantapkan ketundukannya kepada Sang Pencipta.

Ketundukan, dalam bentuk penghambaan diri kepada Sang Khaliq, merupakan wujud dari pengetahuan seorang makhluk terhadap dirinya sendiri. Mengenal, menyelami dan mendalami konsep diri, suatu hal yang dilakukan dari waktu ke waktu oleh seorang pesilat. Secara bertahap, melalui peningkatan keterampilan memaknai wujud batiniyah, belajar silat akan menempatkan seseorang pada maqam yang tepat dan sesuai dengan tuntunan agama.

Mengilmui silat di Minangkabau, sangat dekat maknanya dengan mempelajari agama sebagai tuntunan hidup. Seorang Tuo Silek, akan mengajarkan beragam pengetahuan yang terkait dengan diri manusia serta alam yang ditempatinya. Keberadaan alam sebagai lingkungannya, dicerna dengan akal dan iman. Mencermati alam, dengan segala bentuk pengaruh yang ada di dalamnya, akan mengantarkan seorang pebelajar silat untuk mengenal pula bahwa ada Dzat penguasa alam yang senantiasa mengawasi dan akan menjadi tempat pertanggungjawaban suatu saat nanti.

Karena itu pula, mempelajari silat merupakan salah satu washilah (baca: penghubung) antara eksistensi makhluk dengan Sang Khaliq. Tidak seperti ibadah lainnya yang memang dituntunkan dengan jelas dan memiliki aturan yang pasti, silat pun akan menjadi ibadah makhluk kepada Khaliq ketika si pebelajar mengenal dirinya, sebagai bagian dari proses penciptaan yang sangat mulia.

Konsep penghambaan diri tersebut, terlihat dari pematangan pembelajaran yang terdapat dalam silat. Setiap pesilat akan sangat memahami bahwa antara dirinya dan alam yang ditempati, memiliki titik singgung yang begitu dekat. Kedekatan itu merupakan satu kesatuan yang telah ada dalam dirinya sebagai seorang ciptaan yang diamanahi sebagai pengelola alam. Karena itu saat memulai langkah, seorang pesilat akan menyatukan dirinya dengan keinginan alam, dibuktikan dengan gerakan penghormatan kepada alam melalui sentuhan tangan ke tempatnya berpijak, layaknya meminta ijin dan keridaan bumi untuk dirinya menggunakan keterampian membeladiri.

Penyatuan diri pesilat dengan alam, bukanlah sebuah proses seremonial. Karena dalam kajian silat yang mendalam, keberadaan diri dan alam tidak dapat dipisahkan begitu saja. Silat sebagai ajaran yang diterima pun berasal dari pendalaman para leluhur terhadap alam. Dengan demikian, mengembalikan diri pada penguasaan alam sepenuhnya, diyakini akan membantu pesilat untuk tetap berjalan di koridor yang sesuai dengan penghambaannya kepada Sang Pencipta.

Kekuatan dari keyakinan tersebut, menjadikan seorang pesilat benar-benar mampu menguasai dirinya untuk tetap menjalankan kaidah silat sebagai alat atau media dakwah. Eksistensi lawan yang dihadapi, dijadikan objek untuk segera dikembalikan ke jalan kebenaran. Maka prinsip bersilat sebagai media penyadaran bagi lawannya akan selalu dapat ia posisikan dengan benar.

Itulah yang dimaksud dengan pemahaman falsafah budi nan marangkak (budi/moral yang merangkak). Suatu pemahaman bahwa apapun yang digunakan dalam hidup, baik keterampilan dan ilmu pengetahuan, semua ditujukan pada proses perubahan diri menjadi manusia yang bermanfaat, bukan hanya untuk diri sendiri namun bermanfaat pula untuk alam dan lingkungannya.

Seorang pesilat, ketika menghadapi lawan yang berniat mencelakainya, akan menghadapi dengan kecerdasan moral. Alih-alih menciderai lawan, malah pesilat akan berlaku sebagai teman yang menyadarkan dan mengembalikan si lawan ke posisinya sebagai hamba Tuhan. Oleh sebab itu dalam langkah silat, baik langkah tigo dan langkah ampek, pola menyerang hanya terjadi ketika lawan sudah masuk ke dalam area pesilat. Jadi seorang pesilat tidak akan lebih dulu masuk ke daerah pertahanan lawan, apalagi menyakiti lawan tanpa perhitungan dan batasan yang dibenarkan.

Sementara itu kalimat aka nan bajelo (akal yang selalu berkembang), merupakan kelengkapan dari kecerdasan moral seorang pesilat dalam mempelajari dan menjadikan keterampilannya sebagai media dakwah. Pesilat yang mampu mencapai tingkatan tertinggi dalam pengolahan ragawi dan batinnya, mestilah seorang yang memiliki inteligensia tinggi. Hal itu dimaksudkan tanpa menafikan keberadaan orang-orang yang memiliki daya akal standar sebagai manusia normal, namun lebih kepada tujuan dari bentuk pendalaman ilmu dan pengetahuan seorang pesilat terhadap diri dan Dzat transenden di luar dirinya.

Seorang pesilat yang mahir menggunakan akal pikiran, tidak akan pernah kehilangan arah dan salah menggunakan langkah. Begitu pula ia tidak akan terperangkap untuk salah langkah  atau menggunakan langkah yang salah. Dengan kecerdasan akal pikirannya, pesilat akan terus menerus memiliki kesempatan yang sama dengan lawan untuk melepaskan diri dari jebakan lawannya masing-masing. Selalu ada jalan keluar yang mampu diciptakannya.

Namun dalam keseharian pembelajaran silat ini, masih ditemui pebelajar yang seakan-akan dangkal pemahamannya. Kemampuannya mengolah ragawi hanya terbatas pada keterampilan memainkan langkah beladiri tanpa memaknai. Berbeda-bedanya tingkat pendalaman dalam pembelajaran silat, dapat dimaklumi pula. Sesuai dengan tingkatan pengetahuan dan kecerdasan akal pikiran dan pendalaman akal budi sebagai penyempurna timbulnya raso jo pareso dalam diri. Tingkatan tersebut, sesuai pula dengan konsep pendalaman agama, tingkat awam, berilmu, arif, dan arif bijaksana.

Bagi orang yang baru mengenal silat sebagai bagian dari keterampilan membeladiri, maka ia akan menempati tingkatan awam. Sebagai pemula, ia hanya mengetahui bahwa silat yang dipelajari, merupakan alat yang dapat digunakannya menjatuhkan orang lain. Belum sampai pemahamannya pada taraf yang lebih tinggi. Bila seseorang mahir bersilat dalam strata ini, maka akan lahir pesilat tangguh secara fisik, namun tidak mampu menggunakan akal budinya sebagai pengatur. Ia akan menjadi tokoh yang sesuai karakter dasarnya. Pesilat yang seperti ini bisa jadi beringas, suka menyakiti, atau malah tetap menjadi orang yang takut menghadapi situasi.

Setingkat di atas itu, seorang pebelajar silat yang mampu memahami setiap gerakan dan keterampilannya bersilat, merupakan bagian dari pengolahan ragawi dan batin yang akan membawa dirinya pada posisi tertentu, menempati strata orang berilmu. Ia mampu mengilmui keterampilannya dan mengetahui kegunaan apa yang dipelajarinya.

Sedangkan bagi pesilat yang telah sampai pada maqam arif, ia akan mengetahui kedalaman makna dari setiap langkah dan gerakan yang dimainkan. Baik ketika berhadapan dengan lawan sebagai objek dakwahnya, maupun ketika diserang oleh lawan yang benar-benar tidak dapat disadarkan, dan telah bersekutu dan menghambakan diri pada selain Allah. Ia akan mampu memutuskan dimana harus menempatkan diri dalam kehidupannya.

Lebih sempurna dari itu, ketika seorang pesilat telah arif dan memiliki pendalaman yang kuat dan menyatu dalam dirinya, ia akan menjadi pesilat yang mumpuni pula menggunakan keahliannya untuk turut berproses dalam kehidupan sosial. Ia akan menjadi tokoh yang disegani, tokoh yang mampu menjadi poros penyeimbang masyarakat dan lingkungannya. Dalam istilah Minangkabau ditemui petuah kusuik manyalasai, karuah mampajaniah (menyelesaikan yang kusut, menjernihkan yang keruh). Keberadaannya mencerminkan pribadi terbaik yang bermanfaat bagi manusia lain, seperti digambarkan Allah dalam Surat Ali ‘Imran ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyuruh (berbuat) kebaikan dan mencegah kemungkaran.”

Seorang yang arif bijaksana, sesuai dengan ajaran yang diterimanya dalam pembelajaran olah ragawi dan olah batin dalam tersebut, mampu mencarikan solusi setiap persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan. Kecerdasan akal-budinya menjadi panutan dalam kesehariannya sebagai pandeka (istilah Pendekar di Minangkabau). Pandeka dalam memainkan langkah dan gerakan yang mematikan, pandeka pula dalam mengelola alam sebagai bentuk nyata dari tugasnya sebagai khalifah yang dijanjikan Allah Sang Pencipta.

Penulis: Nova Indra (pimpinan lembaga Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia – P3SDM – Melati, penulis buku Membangun Kecerdasan Spiritual; Implementasi Filosofis Beladiri Minangkabau)

Related posts

Leave a Comment